Wednesday, January 27, 2010

Half Sumatera Journey (3), Palembang – Lubuklinggau - Bengkulu

Perjalanan dari Palembang menuju kota Bengkulu dilanjutkan melalui Lubuklinggau menggunakan kereta api. Karena pelayanan kereta api hanya sampai Lubuklinggau maka moda transportasi selanjutnya akan digunakan bus atau mobil travel menuju Bengkulu. Waktu tempuh dari kota Palembang menuju Lubuklinggau sekitar 8 jam perjalanan menggunakan kereta api.

Data Perjalaanan
Berangkat menggunakan kereta api Sindang Marga dari stasiun Kertapati Palembang pada malam hari, pukul 20.30 Wib dan tiba di stasiun Lubuklinggau pada pagi hari, pukul 04.30 Wib. Dari stasiun Lubuklinggau tersedia bus via curup atau mobil travel yang menuju kota Bengkulu dengan waktu tempuh sekitar 4 – 5 jam.

Angkutan umum di kota Bengkulu seperti Angkot dan ojek motor (tarif angkot sekitar Rp 1500 – 2000)

Wisata kota Bengkulu yang dikunjungi
Kota Bengkulu. Kota bengkulu yang sekaligus merupakan ibu kota propinsi Bengkulu, terletak di pantai barat pulau Sumatera yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. Letak kota Bengkulu yang tidak berada pada lintasan trans Sumatera menjadikan suasana kota ini lebih tenang dibandingkan dengan ibu kota propinsi pada umumnya. Kota ini memiliki tempat-tempat menarik yang bernilai sejarah tinggi seperti Benteng Marlborough yang merupakan benteng peninggalan Inggris dan Rumah Pengasingan Bung Karno. Selain wisata sejarah, kota Bengkulu memiliki tempat wisata seperti Pantai Panjang, Danau Dendam Tak Sudah, dan tempat wisata lainnya.

Benteng Marlborough. Benteng Marlborough merupakan benteng peninggalan kolonial Inggris terbesar di kawasan asia. Letak benteng menghadap ke arah selatan yang meliputi seluas area 31,5 Ha. Benteng Marlborough dibangun berbentuk kura-kura pada tahun 1714 – 1719 di bawah pimpinan Gubernur Joseph Collet. Pada masa penjahahan Belanda, Ir. Soekarno pernah menghuni salah satu ruangan di benteng Marlborough ketika menjalani hukuman buangan dari pemerintah kolonial Belanda.

Pantai Panjang. Pantai yang membentang sepanjang 7 km dengan potensi pasir putih dan di sepanjang pantai ditumbuhi oleh pohon cemara laut. Pantai Panjang terletak sekitar 2 – 3 km dari pusat kota Bengkulu.

Rumah pengasingan Bung Karno. Pada masa penjajahan Belanda, Ir. Soekarno pernah diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1938 sampai dengan 1942. Bekas rumah kediaman Bung Karno ini masih menyimpan buku-buku, sepeda, tempat tidur serta foto-foto semasa perjuangan Ir. Soekarno. Rumah tempat pengasingan terletak di Jalan Soekarno Hatta Kelurahan Anggut Atas.

Masjid Agung At - Taqwa Bengkulu. Masjid Agung At – Taqwa Bengkulu dibangun pada tahun 1988 dengan gaya arsitektur perpaduan antara tradisional Indonesia dan Turki. Lokasi Masjid Agung berdekatan dengan rumah pengasingan Bung Karno di Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Anggut Atas, kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu.

Tips dan Riview Jejak Backpacker
Kereta api Palembang
Lubuklinggau. Karena rencananya petualangan akan dilanjutkan ke kota Bengkulu, maka setibanya di stasiun Kertapati Palembang yang dilakukan pertama kali adalah membeli tiket kereta malam sebelum jalan-jalan di kota Palembang. Tidak ada pelayanan kereta api dari Palembang menuju Bengkulu, hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh kondisi geografis kota Bengkulu yang berada didekat pegunungan dan laut. Pelayanan kereta api hanya sampai ke Lubuklinggau dan dilanjutkan dengan bus atau mobil travel ke Bengkulu.

Transportasi Lubuklinggau – Bengkulu. Dari kota Lubuklinggau dapat dilanjutkan dengan bus atau mobil travel menuju Bengkulu. Bila sesuai dengan jadwal maka kereta akan tiba di Lubuklinggau pada pagi hari antara pukul 04.00 – 05.00 Wib. Di stasiun Lubuklinggau banyak bus atau angkot yang menawarkan tujuan kota Bengkulu via Curup, tetapi tawaran tersebut tidak diterima karena atas informasi seorang kenalan di kereta bahwa ada bus atau mobil travel yang langsung menuju kota Bengkulu.

Pucuk dicinta ulam tiba, ada seorang Bapak yang menawarkan mobil travel ke Bengkulu dengan ongkos Rp 60 ribu, ditawar Rp 40 ribu, Bapaknya mau dengan satu syarat, saya harus berjalan sekitar tiga puluh meter dari gerbang stasiun supaya sopirnya tidak dipungut biaya preman sekitar Rp. 5 ribu, saya ikut saja dan menunggu dia didepan warung dekat stasiun. Pemilik mobil travel ini memiliki usaha tour & travel di kota Lubuklinggau yang menjual tiket pesawat sekaligus menyediakan jasa pengantaran ke bandara.

Warga Lubuklinggau yang akan melakukan penerbangan harus ke kota Bengkulu, karena di Lubuklinggau sendiri tidak terdapat lapangan terbang (bandara). Seringkali calon penumpangnya hanya beberapa orang saja untuk tujuan Bengkulu, jadi dia mencari tambahan penumpang ke stasiun kereta Lubuklinggau. Waktu tempuh perjalanan dari Lubuklinggau ke kota Bengkulu sekitar 4 – 5 jam yang melewati pedesaan, perladangan dengan kontur tanah perbukitan, serta kawasan hutan dengan pegunungan saat semakin mendekati kawasan kota Bengkulu.

Losmen Gumay. Tiba di kota Bengkulu pada siang hari pukul 11.00 Wib, pemilik mobil travel merekomendasikan losmen Gumay sebagai tempat yang cukup nyaman dan murah sebagai tempat menginap. Karena pertimbangan peruntukkannya hanya sebagai tempat menyimpan ransel dan mandi sebelum melanjutkan perjalanan pada malam harinya, maka kepada petugas losmen dimintakan jenis kamar yang paling murah. Harga kamar penginapan yang paling murah di losmen ini sebesar Rp 50 ribu. Penjaga losmen tidak bersedia memberikan potongan harga walaupun sudah informasikan pemakaiannya hanya beberapa jam saja. Kondisi kamar agak berdebu, mungkin karena jarang ditempati tamu. Aliran air ke kamar mandi mati – hidup dan bak kamar mandi kurang bersih. Tidak direkomendasi untuk menginap, sebaiknya cari losmen atau penginapan lain yang lebih nyaman.

Kota Bengkulu berada di dekat laut. Seperti umumnya kota lain atau tempat yang berada didekat laut maka cuacanya akan berhawa panas. Bila anda sedang berkeliling menjelajahi kota ini, disarankan menggunakan pakaian berbahan katun (lembut) yang menyerap keringat dan lindungi kepala dari sengatan matahari dengan topi atau payung.

Angkot kota Bengkulu. Walaupun angkot dikota Bengkulu sudah memiliki jalur yang tetap, tetapi si sopir angkot dapat saja mengubah jalur tetapnya bila beranggapan bahwa penumpang tidak ada yang akan melewati jalur tersebut. Jadi kalau anda hendak menuju Benteng Marlborough maka tidak ada salahnya menyampaikannya ke sopir angkotnya. Lebih baik mengingatkannya daripada jalan-jalan tanpa arah yang pasti.

Perayaan Tabot. Perayaan ini merupakan kesenian khas masyarakat Bengkulu memperingati gugurnya Husein cucu Nabi Muhammad SAW di Padang Karbala ketika dicegat oleh 4000 pasukan Yazid bin Muawwiyah yang berhasrat menjadi khalifah. Tabot dibawa ke Bengkulu oleh bangsa India menggala yang tergabung dalam tentara Inggris pada tahun 1685. Perayaan Tabot dirayakan pada tanggal 1 sampai dengan 10 Muharram setiap tahun, yang diawali dengan acara mengambil tanah, tabot menjara, arak jari-jari, arak sorban, tabot besanding dan pada tanggal 10 Muharram dilaksanakan tabot tebuang di Karbala, yang jaraknya 3,5 km dari pusat Kota Bengkulu. Pada saat berkunjung ke kota Bengkulu perayaan Tabotnya sudah dilaksanakan beberapa minggu sebelumnya. Kunjungan berikutnya ke Bengkulu direncanakan untuk melihat perayaan Tabot dan kalau memungkinkan sekaligus melihat mekarnya bunga Raflesia Arnoldii.

Bunga Raflesia Arnoldii. Bunga Raflesia Arnoldii berukuran raksasa penyebarannya disebutkan berada di pulau Sumatera dengan pusat penyebaran di daerah Bengkulu. Bunga Raflesia Arnoldii dikenal juga dengan nama bunga bangkai atau Amorphophallus titanium. Bunga Raflesia Arnoldii dinamai demikian karena ketika bunga mekar, bunga mengeluarkan bau busuk yang menarik minat serangga seperti lalat untuk hinggap pada bunganya sehingga terjadi penyerbukan. Tidak setiap saat dapat melihat bunga Raflesia Arnoldii mekar, tetapi tergantung pada musimnya. Menurut penduduk lokal, bunga bangkai muncul sekitar satu atau dua tahun sekali. Pada saat berkunjung ke kota Bengkulu, jejak backpacker belum beruntung untuk dapat melihat bunga bangkai. Mungkin kunjungan jejak backpacker berikutnya ke Bengkulu khusus untuk melihat bunga Raflesia Arnoldii dan perayaan Tabot.

Jadwal keberangkatan bus Bengkulu – Padang. Sambil berjalan-jalan mengunjungi tempat-tempat wisata di kota Bengkulu, saya juga berusaha mencari tiket bus yang akan berangkat pada malam harinya menuju kota Padang. Ketika mendatangi salah satu perusahaan bus yang menuju kota Padang diperoleh informasi bahwa bus dari Bengkulu umumnya berangkat sebelum jam 13.00 Wib siang dan tidak ada keberangkatan pada malam hari.

Jalur Trans Sumatera. Berbeda dengan Lubuklinggau yang berada pada jalur trans Sumatera yang dilalui banyak kendaraan dari dan ke pulau Jawa, maka tidak demikian halnya dengan kota Bengkulu. Oleh karenanya sarana transportasinya tidak sebanyak kota propinsi lainnya. Bila sedang berkunjung ke kota Bengkulu disarankan menginap satu malam sebelum meneruskan besok harinya ke tujuan lain.

Bus Fa. Habeco di Bengkulu. Karena tipe perjalanan ini direncanakan berangkat pada malam hari menuju kota berikutnya, namun karena keterbatasan sarana transportasi maka rencana tersebut terancam gagal. Saat berada diatas angkot ketika hendak pulang ke losmen, salah satu penumpang angkot memberikan informasi bahwa masih ada bus ekonomi berukuran sedang (ukuran 3/4) bernama Fa. Habeco tujuan kota Padang (bus Fa. Habeco kira-kira seukuran Metromini/Kopaja di Jakarta atau seukuran Sinabung Jaya/Sutra/Borneo di Medan yang menuju tempat wisata kota Berastagi/Kabanjahe).

Informasi tersebut langsung ditindaklanjuti dengan mencarter angkot seharga Rp 15 ribu menuju penginapan Gumay untuk mengambil ransel. Alasan mencarter angkot dikarenakan jadwal keberangkatan bus Fa. Habeco pada pukul 16.00 Wib sementara jam sudah menunjukkan pukul 15.30an.

Akhirnya perjalanan dari kota Bengkulu dengan bus Fa. Habeco menuju kota Padang segera dimulai. Perkiraan waktu tempuh dari kota Bengkulu ke kota Padang menurut penumpang bus Fa. Habeco sekitar 14 – 16 jam, tetapi kenyataan berkata lain, bus Fa. Habeco menghabiskan waktu sekitar 23 Jam (hampir satu hari satu malam) mencapai kota Padang. Catatan perjalanan dari kota Bengkulu menuju kota Padang dengan bus Fa. Habeco dapat dibaca pada tulisan Half Sumatera Journey (4), Bengkulu – Padang - Bukittingi.

Pengeluaran
Tiket kereta api kelas bisnis Sindang Marga Rp 54.500, mobil travel dari Lubuklinggau ke Bengkulu Rp. 40 ribu, Losmen Gumay Rp. 50 ribu, makan (sarapan, siang) Rp. 20 ribu, carter angkot Rp 15 ribu, ongkos angkot dan minuman Rp. 25 ribu. Total pengeluaran Half Sumatera Journey (3), Palembang – Lubuklinggau - Bengkulu sebesar Rp. 204.500,-

Catatan Backpacker ini berlanjut ke Half Sumatera Journey (4), Bengkulu – Padang - Bukittingi

Read More..

Tuesday, January 26, 2010

Half Sumatera Journey (2), Bandar Lampung - Palembang

Setelah seharian berkunjung ketempat-tempat menarik di kota Lampung, akhirnya perjalanan dilanjutkan menuju kota Palembang menggunakan kereta api Sriwijaya II. Waktu tempuh perjalanan dengan kereta api dari Bandar Lampung menuju Palembang sekitar 9 jam. Alasan menggunakan jasa angkutan kereta api dibandingkan bus lebih karena pertimbangan keamanan. Walaupun fasilitas kereta tidak terlalu nyaman, tetapi karena kondisi fisik yang lelah setelah seharian berkeliling di kota Lampung, akhirnya saat menjelang subuh mata dapat dipejamkan dan tertidur beberapa jam.

Data Perjalanan
Perjalanan dari kota Lampung dimulai pada pukul 21.00 Wib menggunakan kereta api Sriwijaya II. Tiba di stasiun Kertapati di kota Palembang pada pukul 06.00 Wib. Seorang penduduk lokal di stasiun merekomendasikan hotel Semeru di dekat stasiun sebagai tempat yang murah untuk menyewa kamar. Agar dapat menemukan lokasi hotel (penginapan) sesegera mungkin maka digunakan jasa ojek motor dari stasiun Kertapati.

Transportasi angkutan umum di kota Palembang diantaranya Bus (seukuran dengan Kopaja/Metromini di Jakarta), angkot, becak (biasanya dipinggir kota), ojek motor, ojek air (taksi air), taksi. Ongkos rata-rata angkutan umum sekitar Rp. 1500 – 2000. (update pada saat perjalanan backpacker ini dilakukan).

Wisata kota Palembang yang dikunjungi
Kota Palembang. Kota ini merupakan ibu kota bagi propinsi Sumatera Selatan yang menyimpan berbagai potensi menarik, khususnya potensi pariwisata. Keunikan dari tempat wisata kota Palembang adalah jaraknya yang saling berdekatan antara satu objek dengan objek wisata lainnya. Wisata kota Palembang yang saling berdekatan seperti Sungai Musi, Jembatan Ampera, Pasar Ilir 16, Masjid Agung Palembang, Monumen Perjuangan Rakyat, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, dan Benteng Kuto Besak. Objek wisata lain seperti Pulau Kemarau (Kemaro) yang berada ditepi aliran sungai Musi dapat ditemput dengan kapal (perahu).

Sungai Musi. Warga kota Palembang bangga dengan keberadaan sungai Musi yang merupakan sungai terpanjang di pulau Sumatera. Dengan panjang sekitar 750 km, sungai Musi membelah kota Palembang menjadi dua bagian menjadi kawasan Seberang Ilir dibagian Utara dan kawasan Seberang Ulu dibagian Selatan. Sebagian warga Palembang bermukim disepanjang aliran Sungai Musi dan memanfaatkan sungai untuk menunjang kehidupan mereka.

Jembatan Ampera. Jembatan ini menjadi penghubung antara kawasan Seberang Ilir dan Seberang Ulu di sungai Musi, Palembang. Jembatan Ampera dibangun pada masa pemerintahan Ir. Soekarno pada tahun 1960 dengan tenaga ahli dan dana pampasan perang atas Jepang. Peresmian pemakian jembatan dilakukan pada tahun 1965. Selain berfungsi sebagai penunjang sarana transportasi, Jembatan Ampera merupakan ikon bagi kota Palembang.

Pasar Ilir 16. Pasar ini berada disekitar kawasan Jembatan Ampera yang selalu ramai dengan hilir mudik pengunjung. Jangan lewatkan kesempatan berkunjung ke pasar ini untuk melihat-lihat kain khas Sumatera Selatan, kain Songket Palembang.

Masjid Agung Palembang. Masjid ini merupakan salah satu peninggalan kesultanan Palembang yang didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I atau Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikramo mulai tahun 1738 sampai 1748. Arsitektur Masjid dipengaruhi oleh gaya arsitektur Indonesia, Cina, dan Eropah. Letak Masjid Agung Palembang terletak diseberang Monumen Perjuangan Rakyat dan terletak berdekatan dengan objek wisata di Kota Palembang. Persis di jalan raya depan Masjid Agung, terdapat bundaran dengan air mancur (mirip dengan Bundaran Hotel Indonesia di Jakarta, tetapi ukurannya memang tidak sebesar Bundaran HI).

Monumen Perjuangan Rakyat. Monumen terletak diantara Masjid Agung Palembang dengan Jembatan Ampera dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Monumen didirikan untuk mengenang perjuangan rakyat Sumatera Selatan ketika melawan penjajahan pada masa revolusi fisik yang dikenal dengan “pertempuran lima hari lima malam” di Palembang pada tanggal 1 Januari 1947 yang melibatkan rakyat Palembang melawan Belanda.

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Bangunan museum menghadap persis kearah sungai Musi dan dulunya museum ini merupakan rumah tinggal seorang pejabat tinggi Hindia Belanda. Museum memiliki berbagai koleksi seperti prasasti, ukiran, kain, alat musik, alat perang, berbagai peninggalan kesultanan, dan berbagai koleksi lainnya.

Benteng Kuto Besak. Benteng ini terletak menghadap kearah sungai Musi dan berdekatan dengan objek wisata lainnya di kota Palembang. Pada awal pendiriannya, Benteng Kuto Besak merupakan bangunan keraton kesultanan Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758. Sekarang benteng ini digunakan sebagai markas Komando Daerah Militer (Kodam) Sriwijaya. Pengunjung hanya dapat melihat-lihat dari luar dan tidak dapat masuk kedalam Benteng Kuto Besak kecuali mendapatkan izin tertentu.

Pulau Kemarau (Kemaro). Pulau ini berada dialiran sungai Musi. Penyebutan nama pulau menjadi “Kemarau” (Kemaro) karena pulau ini tidak pernah tergenang air, walaupun air pasang besar, pulau tidak kebanjiran dan terlihat dari kejauhan seperti terapung-apung. Pulau Kemaro memiliki legenda tentang kisah cinta seorang putri dari Palembang dengan seorang pangeran dari negeri Cina. Pada kawasan pulau Kemaro terdapat bangunan Pagoda dan Kelenteng agama Buddha. Puncak kunjungan ke pulau ini adalah pada saat perayaan Cap Go Meh (beberapa hari setelah hari raya Imlek) yang dihadiri warga keturunan Tionghoa dari berbagai daerah di Indonesia dan Mancanegara.

Untuk berkunjung ke pulau Kemarau (Kemaro) dapat menggunakan perahu reguler wisata dari Jembatan Ampera, orang lokal menyebutnya Perahu Naga. Pada saat Jejak backpacker berkunjung ke kota Palembang, tanggal 8 Februari 2008 (Jumat), Perahu Naga tidak beroperasi. Tidak ada informasi yang resmi tentang apakah perahu Naga setiap hari Jumat diistirahatkan atau hanya kebetulan saja sedang tidak beroperasi.

Selain perahu Naga, terdapat jasa penyewaan perahu kecil bermesin (warga lokal menyebutnya taksi air) yang mengenakan tarif sekitar Rp. 100 – 150 ribu yang mengantarkan penyewa dari Jembatan Ampera – Pulau Kemaro – Jembatan Ampera. Untuk ukuran backpacker tarif tersebut lumayan mahal apalagi perjalanan ini dijalani seorang diri.

Sempat ngobrol dengan warga setempat dan diperoleh informasi tentang transportasi alternatip menuju pulau Kemaro dengan harga lebih murah. Transportasi alternatip tersebut menggunakan bus yang melewati Jembatan Ampera dan Masjid Raya Palembang dengan tujuan pabrik pupuk Pusri. Kedatangan bus tersebut berasal dari daerah Kertapati (stasiun kereta api) dan Plaju. Trus, turunnya setelah melewati pabrik pupuk Pusri atau Simpang pabrik sepatu (namanya saja yang pabrik sepatu, sebenarnya pabriknya sendiri sudah lama tutup). Tarif bus dari Jembatan Ampera ke tempat ini sekitar Rp 2 ribu atau Rp 4 ribu untuk pulang pergi.

Dari simpang pabrik sepatu ke tepi sungai Musi untuk menyebrang ke pulau Kemaro (Kemarau) berjarak sekitar 1.5 – 2 kilometer. Terdapat kumpulan abang becak di persimpangan pabrik sepatu yang menawarkan jasa mengantar dan bersedia menunggu kepulangan pengunjung dari pulau Kemaro kembali ke simpang pabrik sepatu. Tarif becak sekitar Rp 5 ribu sekali jalan atau Rp 10 ribu untuk pulang pergi (harga ini tidak ditawar).

Setelah turun dari becak maka pengunjung telah berada ditepian sungai Musi dengan jarak ke pulau Kemaro sekitar 200 – 300 meter. Tidak ada jembatan permanen yang menghubungkan tepian sungai Musi dengan pulau Kemaro. Jembatan penghubung darurat (tidak permanen) hanya dibuat pada saat puncak perayaan hari Raya Cap Go Meh ketika pulau Kemaro dipadati ribuan pengunjung.

Dari tepian sungai ke pulau Kemaro dapat ditempuh dengan perahu nelayan lokal dengan tarif sekitar Rp 10 – 15 ribu untuk perjalanan pulang pergi. Pemilik perahu akan menunggui pengunjung sewaktu berjalan-jalan di Pulau Kemaro. Total pengeluaran yang dikeluarkan dari Jembatan Ampera menuju pulau Kemaro dan kembali lagi ke Jembatan Ampera dengan jalur alternatip sebesar Rp 29 ribu rupiah.

Tips dan Riview Jejak Backpacker
Lokasi wisata berdekatan
. Tempat wisata kota Palembang seperti Sungai Musi, Jembatan Ampera, Pasar Ilir 16, Masjid Agung Palembang, Monumen perjuangan rakyat, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Benteng Kuto Besak, merupakan tempat wisata yang berada pada lokasi yang sama dan berdekatan.

Aktivitas pada malam hari. Ketika berada di kota Palembang pada malam hari, hindari melakukan aktivitas dengan kendaraan umum seperti angkot dan bus, bila dalam keadaan mendesak gunakan jasa taksi atau ojek motor. Ada beberapa nasehat dan tulisan diinternet yang dapat dijadikan refrensi untuk hal ini.

Hotel Semeru. Alasan menyewa kamar hotel ini lebih karena pertimbangan kedekatannya ke stasiun Kertapati sehingga akan memudahkan akses untuk melanjutkan perjalanan malam harinya ke Lubuklinggau. Petugas hotel tidak bersedia memberikan discount walaupun diinformasikan bahwa sore/malam harinya sudah akan keluar. Tidak direkomendasikan sebagai tempat untuk menginap.

Kereta api Palembang – Lubuklinggau. Karena rencananya petualangan akan dilanjutkan ke kota Bengkulu, maka setibanya di stasiun Kertapati Palembang yang dilakukan pertama kali adalah membeli tiket kereta malam sebelum jalan-jalan di kota Palembang. Tidak ada pelayanan kereta api dari Palembang menuju Bengkulu, hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh kondisi geografis kota Bengkulu yang berada didekat pegunungan dan laut. Pelayanan kereta api hanya sampai ke Lubuklinggau dan dilanjutkan dengan bus atau mobil travel ke Bengkulu.

Tiket kereta kelas bisnis dan eksekutip tidak dijual oleh pihak stasiun tetapi dijual oleh agen yang telah ditunjuk.Berbeda dengan agen tiket di stasiun Lampung yang berada di sekitar area stasiun, agen tiket kereta di Palembang berada jauh dari stasiun (keadaan ini update pada bulan Februari 2008, mungkin sekarang sudah berubah). Petugas stasiun memberikan informasi agen tiket diantaranya CV. Sahabat telp. (0711) 512999, CV. Grawindo telp.(0711) 317789 (dekat RS. Ceritas), Savari Mulia telp. (0711) 313191. Untuk mencapai agen tiket CV. Sahabat maka dari stasiun Kertapati naik angkot atau bus yang kearah jembatan Ampera. Mintakan ke si sopir agar diturunkan di depan tugu (monumen) keluarga berencana (KB) di jalan Ahmad Yani, kantor agennya persis diseberang tugu (monumen).

Pengeluaran
Tiket kereta api Bisnis Lampung – Palembang Rp 64.500, Hotel Semeru Rp 75 ribu, Biaya makan (sarapan,siang,malam) Rp 26 ribu, ongkos becak Rp 10 ribu, ongkos perahu menyebrang ke pulau Kemaro Rp 15 ribu (Pp), ongkos-ongkos angkot, bus, ojek dan beli minuman Rp 50 ribu. Total pengeluaran Half Sumatera Journey (2), Bandar Lampung – Palembang sebesar Rp 240.500,- (angka-angka yang tertera pada pengeluaran tersebut update pada saat perjalanan backpacker ini dilakukan. kemungkinan harga-harga tersebut telah berubah pada saat tulisan ini anda baca)

Catatan Backpacker ini berlanjut ke Half Sumatera Journey (3), Palembang – Lubuklinggau - Bengkulu

Read More..

Thursday, January 21, 2010

Half Sumatera Journey (1), Jakarta – Bandar Lampung

Rencana untuk melakukan perjalanan ke pulau Sumatera akan segera terealisasi. Agar dapat menghemat biaya dan waktu, perjalanan ala backpacker dipilih sebagai solusi atas keinginan tersebut. Peran penginapan (motel) sebagai tempat bermalam (beristirahat) rencananya akan diabaikan dalam perjalanan backpacker kali ini. Aktivitas tidur (istirahat) akan dilakukan diatas bus atau kereta api pada saat melakukan perjalanan dimalam hari.

Saat tiba ditempat tujuan pada pagi harinya, perjalanan segera dilanjutkan dengan mengunjungi tempat - tempat menarik (kawasan wisata) ditempat tersebut. Malam harinya berangkat lagi ke tempat tujuan selanjutnya, demikian seterusnya, sampai tiba dan beristirahat di kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Fakta berkata lain dan kenyataannya dalam perjalanan ini tetap menggunakan jasa penginapan (motel) murah yang difungsikan sebagai tempat menyimpan ransel saat berjalan-jalan didaerah tujuan. Perjalanan pada malam hari untuk mencapai kota tujuan di pulau Sumatera tetap berjalan sesuai rencana.

Data Perjalanan
Perjalanan dimulai di Jakarta pada tanggal 6 Februari 2008 mengunakan bus Damri dari stasiun Gambir, kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Bus berangkat dari Jakarta pada pukul 22.00 Wib malam dan tiba di Stasiun Bandar Lampung pada pukul 06.00 Wib pagi.
Transportasi (angkutan) umum di kota Lampung diantaranya bus Damri dalam kota (ongkos Rp. 1500), Angkot (ongkos sekitar Rp. 2000 – 3000), becak, dan ojek motor.
Wisata Bandar Lampung yang dikunjungi
Kota Bandar Lampung. Kota ini merupakan ibu kota bagi propinsi Lampung yang menjadi pusat kegiatan pemerintahan, ekonomi, sosial politik, pendidikan dan kebudayaan. Letak geografis kota Bandar Lampung yang berada berdekatan dengan laut menyebabkan kota ini memiliki tempat wisata pantai yang berjarak tidak jauh dari kotanya. Tempat menarik lainnya di kota Lampung seperti Museum Lampung, Vihara Thay Hin Bio, dan Pasar Bambu kuning sebagai salah satu tempat beraktivitas bagi warga Lampung.
Museum Lampung. Museum ini menyimpan koleksi berupa keramik dari negeri Siam dan China pada zaman Dinasti Ming, benda-benda hasil karya seni, stempel dan mata uang kuno pada masa penjajahan Belanda. Disekitar halaman museum terdapat rumah adat Lampung lengkap dengan replika peralatan-peralatan yang dulunya digunakan leluhur orang Lampung.
Pantai Pasir Putih. Pantai ini ramai dikunjungi warga khususnya pada hari libur. Aktivitas yang biasanya dilakukan pengunjung seperti berenang, bermain perahu-perahuan (seperti kano), menyeberang ke pulau Condong melihat karang bolong. Untuk mengunjungi Pantai pasir putih Lampung dapat menggunakan transportasi sebagai berikut: dari pusat kota atau stasiun kereta api, naik bus Damri dalam kota jurusan terminal Teluk Betung (turun di perhentian terakhir bus Damri). Dari terminal Teluk Betung naik angkot warna Orange ke Panjang. Dari Panjang naik angkot warna hijau ke Pantai Pasir Putih dan pesankan ke sopir angkotnya supaya diturunkan di gerbang pantai pasir putih (persis berdekatan dengan PLTU Lampung).
Pulau Condong. Pulau Condong berada disekitar tempat wisata Pantai Pasir Putih. Untuk mencapai pulau Condong dapat menggunakan perahu carteran dari pantai pasir putih. Tidak ada perahu reguler seperti yang ada di antara Pulau Pramuka dan Panggang pada kawasan Kepulauan seribu di Jakarta. Waktu tempuh antara Pulau Pasir Putih dan pantai Condong sekitar 10 – 15 menit. Pemilik perahu carteran menawarkan harga sekitar 100 – 150 ribu untuk jasa pulang dan pergi (pp). Perahu carteran ideal bagi perjalanan sekeluarga atau berkelompok dikarenakan muatan perahu cukup bagi sekitar 10 – 15 orang. Pengunjung dapat pergi ke pulau Condong pada pagi hari dan minta dijemput sore harinya, atau dapat dipesankan sesuai waktu yang diinginkan.
Bila anda melakukan perjalanan seorang diri (solo), mintakan kepada pemilik perahu agar mencari orang yang mau berbagi (sharing) biaya. Tawar biaya perahunya sekitar Rp. 30 – 60 ribu per orang atau sesuaikan dengan jumlah
penumpang. Aktivitas yang dapat dinikmati di pulau Condong seperti menikmati suasana pulau yang lebih sejuk karena banyak pepohonan rindang disekitar pulau, monyet yang berkeliaran, pasir pantai putih, melihat karang bolong, dan menikmati pemandangan terumbu karang dari atas perahu melalui wadah kaca yang disediakan pemilik perahu (hampir mirip seperti jasa yang diberikan pemilik perahu di Tanjung Benoa Bali saat menyeberang ke Pulau Penyu). Walaupun pulau Condong terletak di teluk Lampung, tetapi tiupan angin Utara bertiup kencang pada bulan Januari dan Februari. Tiupan angin membuat perahu terayun-ayun oleh ombak dan terkadang percikan ombak masuk ke dalam perahu. Lihat video-nya disini.
Vihara Thay Hin Bio. Vihara ini berada disekitar pusat kota dan merupakan vihara tertua di Lampung. Sebagaimana Vihara pada umumnya yang corak dan warnanya didominasi warna merah maka demikian juga dengan Vihara Thay Hin Bio. Warna merah mendominasi mulai dari bangunannya maupun peralatan sembahyang.
Tips dan Riview Jejak Backpacker
Bus Damri Jakarta – Bandar Lampung.
Bila berencana melakukan perjalanan ke Bandar Lampung dengan Bus Damri, disarankan agar memesan tiketnya beberapa hari sebelum berangkat, khususnya hari Sabtu, Minggu dan menjelang musim liburan. Tipe kelas untuk pelayanan bus Damri pada trayek Jakarta – Bandar Lampung – Jakarta ini terdiri atas kelas eksekutip (ada toilet) dan kelas Bisnis (tanpa toilet), kedua jenis bus sama-sama menggunakan penyejuk udara (AC). Harga tiket bus untuk kelas bisnis Rp. 105 ribu dan kelas eksekutip Rp. 139 ribu. Tiket bus Damri jurusan akarta – Bandar Lampung – Jakarta dapat dibeli disekitar area stasiun kereta api Gambir. (update pada saat perjalanan backpacker ini dijalani).
Bus Damri Kelas Bisnis. Bila kebetulan anda menggunakan bus Damri kelas bisnis dan pada saat penyebrangan di pelabuhan Bakauheni anda turun untuk pergi ke toilet kapal, namun saat kembali ke bus pintunya tertutup dan dikunci dari dalam. Tidak perlu panik, anda hanya perlu mengetuk pintu dan petugas busnya akan membukakan pintu walaupun mereka sedang tidur. Hal tersebut mereka lakukan untuk menghindari niat orang tertentu yang ingin melakukan pencurian atau hal yang kurang baik lainnya.
Tiket kereta api malam ke Palembang. Bila anda merencanakan pergi ke kota Palembang pada malam harinya maka saat tiba di stasiun kereta api Bandar Lampung, segera beli tiket terlebih dahulu sebelum pergi jalan-jalan di kota Bandar Lampung. Pihak stasiun kereta api Bandar Lampung hanya menjual tiket kelas ekonomi, sedangkan tiket kelas bisnis dan eksekutip dilakukan oleh agen-agen resmi yang telah ditunjuk. Di Bandar Lampung, agen-agen penjualan tiket berada tepat di depan gerbang stasiun kereta, disebelah kiri dan kanan jalan.
Penginapan Murah. Bila pada saat anda melakukan perjalanan ke Lampung membawa tas ransel yang cukup berat maka carilah penginapan murah disekitar stasiun agar dapat menyimpan ransel dan melakukan perjalanan seharian dengan nyaman. Berjarak sekitar 200-300 meter dari gerbang stasiun, ada 2 penginapan murah dibelakang Masjid. Ketika masuk ke gang yang disebelah Masjid, penginapan yang sebelah kanan menawarkan harga sekitar Rp. 25 ribu sehari (tawar Rp. 20 ribu biasanya pemiliknya mau kalau hanya sampai malam). Tidak direkomendasikan untuk menginap di penginapan sebelah kanan karena suhu kamarnya panas dan kondisi ventilasi kurang memadai.
Pengeluaran
Tiket bus Damri kelas bisnis Jakarta - Lampung (Rp.105 ribu), penginapan (Rp. 20 ribu), sewa perahu ke pulau Condong (sharing bertiga Rp. 50 ribu), biaya makan pagi, siang, dan malam (Rp. 27 ribu), tiket masuk ke pantai pasir putih (Rp. 5 ribu), ongkos-ongkos angkot dan beli air minum (Rp. 30 ribu) . Total Pengeluaran untuk Half Sumatera Journey (1), Jakarta – Bandar Lampung sebesar Rp. 237.000,-
Catatan Backpacker ini berlanjut ke Half Sumatera Journey (2), Bandar Lampung – Palembang

Read More..

Wednesday, January 20, 2010

Half Sumatera Journey by Jejak Backpacker

Perjalanan Jejak Backpaker ke pulau Sumatera dilakukan pada tanggal 6 – 12 Februari 2008. Perjalanan ini dilakukan seorang diri (solo/independent Backpacker) yang dimulai dari Jakarta dan melewati tempat – tempat wisata di kota Bandar Lampung, Palembang, Bengkulu, Padang, dan Bukittinggi.

Half Sumatera Journey bercerita pengalaman saat berkunjung ke tempat wisata yang berada didalam atau disekitar kota. Selain tempat wisata, banyak kesan dan pengalaman ketika berinteraksi dengan penduduk setempat, tak terkecuali perilaku supir angkot disuatu kota.

Half Sumatera Journey dijalani selama 7 hari dan 6 malam. Perjalanan dimulai sore hari setelah pulang kantor. Dari kawasan Sudirman di Jakarta menuju stasiun Gambir menggunakan angkutan umum (Metromini 15 jurusan Setia Budi – Gambir – Senen). Tiba di stasiun Gambir sekitar pukul 18.30 Wib dan langsung menuju loket penjualan tiket bus Damri menuju Bandar Lampung. Lokasi penjualan tiket berada diluar dan diujung gedung stasiun bila masuk dari arah kedutaan besar Amerika Serikat. Jenis bus Damri yang tersedia pada trayek Jakarta – Bandar lampung adalah kelas bisnis dan eksekutif dan yang membedakan kedua jenis bus ini adalah ketersediaan toilet. Pada bus kelas eksekutif tersedia toilet bagi penumpangnya sedangkan pada bus bisnis tidak tersedia.

Perjalanan dari Jakarta menuju Bandar Lampung menggunakan bus Damri kelas bisnis. Perjalanan dimulai pukul 22.00 Wib dan tiba di kota Bandar Lampung pada pukul 06.00 Wib. Setelah tiba di Pelabuhan Merak, bus akan menggunakan jasa kapal penyebrangan untuk menyebrangi selat Sunda menuju Pulau Sumatera. Penumpang dapat turun dari bus bila berniat berjalan-jalan di atas kapal, tetapi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diharapkan maka jangan meninggalkan barang berharga ketika keluar dari bus. Kesan saat menjalani malam pada bus Damri kelas bisnis ini cukup nyaman dan aman. Kualitas kenyamanannya mirip dengan Kereta api Taksaka jurusan JakartaYogyakarta.

Ketika tiba pagi hari di stasiun kereta api Bandar lampung, target pertama yang akan dilakukan diantaranya sarapan dan membeli tiket kereta api malam tujuan kota Palembang. Penjualan tiket kereta api dilakukan oleh agen-agen yang membuka loket di luar kawasan stasiun. Akhirnya, tiket kereta api Sriwijaya II kelas bisnis sudah ditangan dan akan berangkat pada pukul 21.00 Wib. Sisa waktu sekitar 10 – 12 jam digunakan untuk menjelajahi tempat wisata disekitar kota Bandar Lampung. Catatan lengkap perjalanan di kota Lampung ini akan diceritakan pada tulisan “Half Sumatera Journey (1), Jakarta – Bandar Lampung”.

Setelah seharian menjelajahi tempat-tempat menarik disekitar kota Lampung, akhirnya pada pukul 21.00 Wib perjalanan dilanjutkan menuju kota Palembang menggunakan Kereta api Sriwijaya II kelas bisnis. Kualitas dan fasilitas kelas bisnis kereta api di Sumatera kurang lebih sama dengan kualitas kelas ekonomi di pulau Jawa, hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh padatnya konsentrasi penduduk di pulau Jawa sehingga kebutuhan akan sarana kereta api sangat tinggi. Mata tidak dapat terpejam, tetapi kondisi fisik yang lelah dan capek berkeliling seharian di kota Lampung, akhirnya saat menjelang subuh dapat tertidur beberapa jam. Pada pukul 06.00 Wib pagi kereta api Sriwijaya II tiba di stasiun kereta Kertapati di Palembang.

Perjalanan rencananya akan dilanjutkan ke Bengkulu pada malam harinya, maka target pertama yang dicari adalah tiket kereta api malam tujuan Bengkulu. Ternyata pelayanan kereta api menuju Bengkulu tidak ada dan kota terdekat dari Bengkulu yang dapat ditempuh kereta api adalah kota Lubuklinggau. Informasi yang diterima dari petugas di stasiun bahwa pihak stasiun tidak melakukan penjualan tiket, tetapi yang melakukannya adalah para agen.

Berbeda dengan agen tiket di stasiun Lampung yang berada di sekitar area stasiun, agen tiket kereta di Palembang berada jauh dari stasiun (keadaan ini update pada bulan Februari 2008, mungkin sekarang sudah berubah). Petugas stasiun memberikan informasi agen tiket diantaranya CV. Sahabat telp. (0711) 512999, CV. Grawindo telp.(0711) 317789 (dekat RS. Ceritas), Savari Mulia telp. (0711) 313191. Untuk mencapai agen tiket CV. Sahabat maka dari stasiun Kertapati naik angkot atau bus yang kearah jembatan Ampera. Mintakan ke si sopir agar diturunkan di depan tugu keluarga berencana (KB) di jalan Ahmad Yani, kantor agennya persis diseberang tugu.

Setelah urusan tiket kereta menuju Lubuklinggau didapat maka penjelajahan tempat-tempat wisata di Palembang segera dimulai. Catatan tentang perjalanan mengunjungi tempat-tempat menarik di Palembang akan diuraikan pada Half Sumatera Journey (2), Bandar Lampung – Palembang.

Setelah seharian menjelajahi tempat wisata kota Palembang yang dominan berada disepanjang aliran sungai Musi, maka malam harinya perjalanan akan dilanjutkan ke daerah Bengkulu melalui Lubuklinggau. Dari stasiun Kertapati di Palembang, perjalanan dimulai pada pukul 20.30 Wib menggunakan kereta api Sindang Marga kelas bisnis. Kondisi kelas bisnis kereta api Sindang Marga kurang lebih sama dengan kereta api Sriwijaya II dan pada saat berhenti pada stasiun – stasiun tertentu maka para pedagang asongan bebas menjajakan dagangannya keatas kereta. Hati-hati terhadap barang berharga ketika melakukan perjalanan seperti ini. Pada saat melakukan perjalanan ini, semua barang-barang berharga saya simpan pada satu tas ransel berukuran sedang dan didekapkan didada ketika tidur. Karena kondisi kereta api yang kurang nyaman akhirnya hanya dapat tertidur beberapa jam saja saat menuju Lubuklinggau.

Kereta api Sindang Marga tiba di stasiun Lubuklinggau pada pukul 04.30 Wib subuh. Saat turun di stasiun ini ada yang menawarkan jasa mobil travel yang menuju kota Bengkulu. Mobil travel ini membawa warga Lubuklinggau yang akan melakukan penerbangan melalui Bandar udara di kota Bengkulu. Bila kapasitas mobil tidak terisi penuh biasanya si sopir mencari penumpang tambahan ke stasiun. Bila menggunakan jasa mobil travel ini, lakukan tawar menawar agar ongkosnya bisa lebih murah, biasanya sopirnya mau, tetapi anda harus berjalan kaki keluar dari stasiun supaya preman setempat tidak minta jatah kepada si sopir.

Waktu tempuh perjalanan dari Lubuklinggau ke kota Bengkulu sekitar 4 – 5 jam yang melewati pedesaan, perladangan dengan kontur tanah perbukitan, serta kawasan hutan dengan pegunungan saat semakin mendekati kawasan kota Bengkulu. Tiba di kota Bengkulu pukul 11.00 Wib siang, si sopir merekomendasikan losmen Gumay sebagai tempat yang murah untuk tempat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi pada malam harinya. Setelah menyimpan ransel di losmen, perjalanan mengunjungi tempat wisata di sekitar kota Bengkulu segera dimulai. Catatan perjalanan saat berkunjung ke tempat menarik di kota Bengkulu akan diuraikan pada Half Sumatera Journey (3), Palembang – Lubuklinggau - Bengkulu.

Sambil berjalan-jalan di tempat wisata di kota Bengkulu saya juga berusaha mencari tiket bus yang akan berangkat pada malam harinya menuju kota Padang. Ketika mendatangi salah satu perusahaan bus yang menuju kota Padang diperoleh informasi bahwa bus dari Bengkulu tidak ada yang berangkat pada malam hari. Umunya bus dari Bengkulu tujuan Padang akan berangkat sebelum jam 13.00 Wib siang hal ini mungkin dikarenakan sering terjadi tindak kejahatan pada malam hari? (hal ini hanya dugaan pribadi). Kelemahan kota Bengkulu dari segi transportasi darat dikarenakan posisinya yang tidak dilalui jalur trans Sumatera seperti kota Lubuklinggau. Atas hasil percakapan sesama penumpang didalam angkot diperoleh informasi bahwa ada bus ekonomi berukuran kecil ( kira-kira seukuran Metromini/Kopaja di Jakarta atau seukuran Sinabung Jaya/Sutra/Borneo di Medan yang menuju Berastagi/Kabanjahe) bernama Fa. Habeco yang berpangkalan di jalan Bali Bengkulu.

Bus Fa. Habeco diinformasikan berangkat pada pukul 16.00 Wib dan perkiraan tiba di kota Padang pada pagi hari pada pukul 06.00 – 08.00 Wib atau waktu tempuh sekitar 14 – 16 jam, tetapi kenyataannya baru tiba di kota Padang pada pukul 15.00 Wib sore atau waktu tempuh sekitar 23 jam (sungguh terlalu…..). Kondisi didalam bus Fa. Habeco jauh dari unsur kenyaman, selain jarak antar kursi yang terlalu rapat, penumpang juga bebas merokok. Selama 23 jam dalam perjalanan dengan bus ini, hampir tidak pernah dapat tertidur dengan nyaman selama lebih dari 1 jam. Jangankan untuk tidur, untuk dapat duduk dengan nyaman saja membutuhkan perjuangan dan doa hehehe..... Catatan perjalanan tentang perjalanan ini akan diuraikan pada tulisan Half Sumatera Journey (4), Bengkulu – Padang - Bukittingi.

Setelah tiba pada sore hari di kota Padang, perjalanan segera dilanjutkan ke kota Bukittingi. Tiba di Simpang Jambu Air Bukittinggi pada pukul 18.00 Wib, dari tempat ini dilanjutkan dengan naik angkot ke daerah pasar bawah dan minta diturunkan di hotel Jogya. Hotel ini berjarak sekitar 100 – 200 meter dari Jam Gadang dan terletak dibawah lokasi wisata tersebut. Rencananya selama 2 hari kedepan akan berkunjung ke tempat-tempat wisata disekitar kota Bukittinggi, menikmati kulinernya, dan istirahat dengan nyaman di hotel Jogya. Jenis kamar yang diambil di hotel Jogya merupakan kelas ekonomi alias kelas bagi kaum Backpacker. Walaupun kelas ekonomi dan usia hotel sudah agak tua, tetapi tingkat kenyamanan cukup memadai. Cukup banyak pengalaman menarik saat berkunjung ke kota Bukittinggi.

Setelah berada dua hari di kota Bukittinggi, akhirnya tibalah waktunya untuk pulang ke Jakarta. Pagi harinya di hari ketujuh perjalanan, berangkat dari Bukittingi menuju kota Padang menggunakan mobil travel (mobil ini sejenis mobil "omprengan" di Jakarta yang membawa para pekerja dari daerah Bekasi, dll) dari sekitar simpang Jambu air Bukittinggi. Alat transportasi yang digunakan untuk pulang dari Padang ke Jakarta adalah penerbangan murah (Low Cost Carrier) Air Asia. Karena waktu kepulangan ke Jakarta pada malam hari, maka ada kesempatan untuk terlebih dahulu berkunjung ke tempat-tempat wisata di kota Padang dan sekitarnya. Catatan perjalanan tentang perjalanan ini akan diuraikan pada tulisan Half Sumatera Journey (5), Bukittingi – PadangJakarta.

Untuk setiap uraian dari catatan perjalanan Half Sumatera Journey akan mencoba mencantumkan jumlah pengeluaran pada setiap perjalanan ala Backpacker ini. Armada transportasi yang digunakan dalam Half Sumatera Journey diantaranya angkutan umum (angkot), ojek motor, ojek air (perahu), bus, kereta api, dan pesawat terbang penerbangan murah (Low Cost Carrier) Air Asia.

Half Sumatera Journey by Jejak Backpacker dibagi dalam lima tulisan berikut ini,

Read More..

Wednesday, January 6, 2010

Blog Jejak Backpacker

Blog Jejak Backpacker didedikasikan untuk berbagi informasi seputar tempat wisata menarik di Indonesia maupun mancanegara. Informasi berupa ulasan tempat wisata, budaya, catatan perjalanan, transportasi, kuliner, akomodasi dan hal lainnya yang berhubungan dengan wisata dan perjalanan ala Backpacker.

Jejak Backpacker diharapkan dapat memberikan informasi secara objektif berdasarkan pengalaman saat mengunjungi tempat wisata dan kesan saat mencicipi keragaman kuliner setempat. Pada saat melakukan perjalanan backpacker, tentunya akan banyak pengalaman menyenangkan maupun yang kurang menyenangkan. Semua pengalaman perjalanan tersebut akan dipaparkan secara jujur dan terbuka agar dapat menambah wawasan bagi mereka yang hendak melakukan perjalanan wisata.

Pengelola Jejak Backpacker ini hanyalah seorang pekerja kantoran yang bekerja pada salah satu anak perusahaan BUMN yang bergerak dalam bidang Pasar Modal di Jakarta. Perjalanan backpacker yang dilakukannya umumnya dilakukan seorang diri (solo/independent backpacker) dan kegemaran ini sudah dijalaninya sejak masih duduk dibangku kuliah. Obsesinya diantaranya akan berkunjung ke setiap propinsi di Indonesia dan negara-negara lainnya di dunia dengan gaya Backpacker. Ide membuat Jejak Backpacker dilatarbelakangi keinginan untuk berbagi pengalaman perjalanan, khususnya bagi orang Indonesia.

Bagi sebagian orang Indonesia, aktivitas jalan-jalan dinilai sesuatu yang sangat mahal dan eksklusif. Hal tersebut dapat dimaklumi karena kurangnya informasi yang dapat diakses untuk mencapai tempat wisata tersebut secara mandiri. Lebih seringnya, informasi yang diberikan tentang tempat wisata oleh beberapa pihak sudah mengandung unsur bisnis berupa tawaran paket wisata (travel) dengan harga mahal. Akhirnya, karena biayanya mahal maka banyak dari kita bercita-cita menikmati hidup, termasuk jalan-jalan, setelah masa pensiun. Perlu disadari bahwa setelah pensiun kondisi fisik seseorang kemungkinan sudah menurun dan bahkan rentan terhadap penyakit.

Maka tidaklah keliru bila hidup ini dijalani secara sehat dan seimbang. Ayo, silahkan bekerja mencari uang, tetapi aktivitas jalan-jalan hendaknya tetap dilakukan untuk refreshing bagi jiwa dan raga. Jalan-jalan tidaklah harus ketempat yang jauh dengan biaya mahal, banyak sarana wisata disekitar kita yang menarik dan pantas untuk dikunjungi. Semoga Jejak Backpacker bermanfaat sebagai referensi perjalanan anda, khususnya perjalanan ala Backpacker.

.

Read More..