Tuesday, January 26, 2010

Half Sumatera Journey (2), Bandar Lampung - Palembang

Setelah seharian berkunjung ketempat-tempat menarik di kota Lampung, akhirnya perjalanan dilanjutkan menuju kota Palembang menggunakan kereta api Sriwijaya II. Waktu tempuh perjalanan dengan kereta api dari Bandar Lampung menuju Palembang sekitar 9 jam. Alasan menggunakan jasa angkutan kereta api dibandingkan bus lebih karena pertimbangan keamanan. Walaupun fasilitas kereta tidak terlalu nyaman, tetapi karena kondisi fisik yang lelah setelah seharian berkeliling di kota Lampung, akhirnya saat menjelang subuh mata dapat dipejamkan dan tertidur beberapa jam.

Data Perjalanan
Perjalanan dari kota Lampung dimulai pada pukul 21.00 Wib menggunakan kereta api Sriwijaya II. Tiba di stasiun Kertapati di kota Palembang pada pukul 06.00 Wib. Seorang penduduk lokal di stasiun merekomendasikan hotel Semeru di dekat stasiun sebagai tempat yang murah untuk menyewa kamar. Agar dapat menemukan lokasi hotel (penginapan) sesegera mungkin maka digunakan jasa ojek motor dari stasiun Kertapati.

Transportasi angkutan umum di kota Palembang diantaranya Bus (seukuran dengan Kopaja/Metromini di Jakarta), angkot, becak (biasanya dipinggir kota), ojek motor, ojek air (taksi air), taksi. Ongkos rata-rata angkutan umum sekitar Rp. 1500 – 2000. (update pada saat perjalanan backpacker ini dilakukan).

Wisata kota Palembang yang dikunjungi
Kota Palembang. Kota ini merupakan ibu kota bagi propinsi Sumatera Selatan yang menyimpan berbagai potensi menarik, khususnya potensi pariwisata. Keunikan dari tempat wisata kota Palembang adalah jaraknya yang saling berdekatan antara satu objek dengan objek wisata lainnya. Wisata kota Palembang yang saling berdekatan seperti Sungai Musi, Jembatan Ampera, Pasar Ilir 16, Masjid Agung Palembang, Monumen Perjuangan Rakyat, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, dan Benteng Kuto Besak. Objek wisata lain seperti Pulau Kemarau (Kemaro) yang berada ditepi aliran sungai Musi dapat ditemput dengan kapal (perahu).

Sungai Musi. Warga kota Palembang bangga dengan keberadaan sungai Musi yang merupakan sungai terpanjang di pulau Sumatera. Dengan panjang sekitar 750 km, sungai Musi membelah kota Palembang menjadi dua bagian menjadi kawasan Seberang Ilir dibagian Utara dan kawasan Seberang Ulu dibagian Selatan. Sebagian warga Palembang bermukim disepanjang aliran Sungai Musi dan memanfaatkan sungai untuk menunjang kehidupan mereka.

Jembatan Ampera. Jembatan ini menjadi penghubung antara kawasan Seberang Ilir dan Seberang Ulu di sungai Musi, Palembang. Jembatan Ampera dibangun pada masa pemerintahan Ir. Soekarno pada tahun 1960 dengan tenaga ahli dan dana pampasan perang atas Jepang. Peresmian pemakian jembatan dilakukan pada tahun 1965. Selain berfungsi sebagai penunjang sarana transportasi, Jembatan Ampera merupakan ikon bagi kota Palembang.

Pasar Ilir 16. Pasar ini berada disekitar kawasan Jembatan Ampera yang selalu ramai dengan hilir mudik pengunjung. Jangan lewatkan kesempatan berkunjung ke pasar ini untuk melihat-lihat kain khas Sumatera Selatan, kain Songket Palembang.

Masjid Agung Palembang. Masjid ini merupakan salah satu peninggalan kesultanan Palembang yang didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I atau Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikramo mulai tahun 1738 sampai 1748. Arsitektur Masjid dipengaruhi oleh gaya arsitektur Indonesia, Cina, dan Eropah. Letak Masjid Agung Palembang terletak diseberang Monumen Perjuangan Rakyat dan terletak berdekatan dengan objek wisata di Kota Palembang. Persis di jalan raya depan Masjid Agung, terdapat bundaran dengan air mancur (mirip dengan Bundaran Hotel Indonesia di Jakarta, tetapi ukurannya memang tidak sebesar Bundaran HI).

Monumen Perjuangan Rakyat. Monumen terletak diantara Masjid Agung Palembang dengan Jembatan Ampera dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Monumen didirikan untuk mengenang perjuangan rakyat Sumatera Selatan ketika melawan penjajahan pada masa revolusi fisik yang dikenal dengan “pertempuran lima hari lima malam” di Palembang pada tanggal 1 Januari 1947 yang melibatkan rakyat Palembang melawan Belanda.

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Bangunan museum menghadap persis kearah sungai Musi dan dulunya museum ini merupakan rumah tinggal seorang pejabat tinggi Hindia Belanda. Museum memiliki berbagai koleksi seperti prasasti, ukiran, kain, alat musik, alat perang, berbagai peninggalan kesultanan, dan berbagai koleksi lainnya.

Benteng Kuto Besak. Benteng ini terletak menghadap kearah sungai Musi dan berdekatan dengan objek wisata lainnya di kota Palembang. Pada awal pendiriannya, Benteng Kuto Besak merupakan bangunan keraton kesultanan Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758. Sekarang benteng ini digunakan sebagai markas Komando Daerah Militer (Kodam) Sriwijaya. Pengunjung hanya dapat melihat-lihat dari luar dan tidak dapat masuk kedalam Benteng Kuto Besak kecuali mendapatkan izin tertentu.

Pulau Kemarau (Kemaro). Pulau ini berada dialiran sungai Musi. Penyebutan nama pulau menjadi “Kemarau” (Kemaro) karena pulau ini tidak pernah tergenang air, walaupun air pasang besar, pulau tidak kebanjiran dan terlihat dari kejauhan seperti terapung-apung. Pulau Kemaro memiliki legenda tentang kisah cinta seorang putri dari Palembang dengan seorang pangeran dari negeri Cina. Pada kawasan pulau Kemaro terdapat bangunan Pagoda dan Kelenteng agama Buddha. Puncak kunjungan ke pulau ini adalah pada saat perayaan Cap Go Meh (beberapa hari setelah hari raya Imlek) yang dihadiri warga keturunan Tionghoa dari berbagai daerah di Indonesia dan Mancanegara.

Untuk berkunjung ke pulau Kemarau (Kemaro) dapat menggunakan perahu reguler wisata dari Jembatan Ampera, orang lokal menyebutnya Perahu Naga. Pada saat Jejak backpacker berkunjung ke kota Palembang, tanggal 8 Februari 2008 (Jumat), Perahu Naga tidak beroperasi. Tidak ada informasi yang resmi tentang apakah perahu Naga setiap hari Jumat diistirahatkan atau hanya kebetulan saja sedang tidak beroperasi.

Selain perahu Naga, terdapat jasa penyewaan perahu kecil bermesin (warga lokal menyebutnya taksi air) yang mengenakan tarif sekitar Rp. 100 – 150 ribu yang mengantarkan penyewa dari Jembatan Ampera – Pulau Kemaro – Jembatan Ampera. Untuk ukuran backpacker tarif tersebut lumayan mahal apalagi perjalanan ini dijalani seorang diri.

Sempat ngobrol dengan warga setempat dan diperoleh informasi tentang transportasi alternatip menuju pulau Kemaro dengan harga lebih murah. Transportasi alternatip tersebut menggunakan bus yang melewati Jembatan Ampera dan Masjid Raya Palembang dengan tujuan pabrik pupuk Pusri. Kedatangan bus tersebut berasal dari daerah Kertapati (stasiun kereta api) dan Plaju. Trus, turunnya setelah melewati pabrik pupuk Pusri atau Simpang pabrik sepatu (namanya saja yang pabrik sepatu, sebenarnya pabriknya sendiri sudah lama tutup). Tarif bus dari Jembatan Ampera ke tempat ini sekitar Rp 2 ribu atau Rp 4 ribu untuk pulang pergi.

Dari simpang pabrik sepatu ke tepi sungai Musi untuk menyebrang ke pulau Kemaro (Kemarau) berjarak sekitar 1.5 – 2 kilometer. Terdapat kumpulan abang becak di persimpangan pabrik sepatu yang menawarkan jasa mengantar dan bersedia menunggu kepulangan pengunjung dari pulau Kemaro kembali ke simpang pabrik sepatu. Tarif becak sekitar Rp 5 ribu sekali jalan atau Rp 10 ribu untuk pulang pergi (harga ini tidak ditawar).

Setelah turun dari becak maka pengunjung telah berada ditepian sungai Musi dengan jarak ke pulau Kemaro sekitar 200 – 300 meter. Tidak ada jembatan permanen yang menghubungkan tepian sungai Musi dengan pulau Kemaro. Jembatan penghubung darurat (tidak permanen) hanya dibuat pada saat puncak perayaan hari Raya Cap Go Meh ketika pulau Kemaro dipadati ribuan pengunjung.

Dari tepian sungai ke pulau Kemaro dapat ditempuh dengan perahu nelayan lokal dengan tarif sekitar Rp 10 – 15 ribu untuk perjalanan pulang pergi. Pemilik perahu akan menunggui pengunjung sewaktu berjalan-jalan di Pulau Kemaro. Total pengeluaran yang dikeluarkan dari Jembatan Ampera menuju pulau Kemaro dan kembali lagi ke Jembatan Ampera dengan jalur alternatip sebesar Rp 29 ribu rupiah.

Tips dan Riview Jejak Backpacker
Lokasi wisata berdekatan
. Tempat wisata kota Palembang seperti Sungai Musi, Jembatan Ampera, Pasar Ilir 16, Masjid Agung Palembang, Monumen perjuangan rakyat, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Benteng Kuto Besak, merupakan tempat wisata yang berada pada lokasi yang sama dan berdekatan.

Aktivitas pada malam hari. Ketika berada di kota Palembang pada malam hari, hindari melakukan aktivitas dengan kendaraan umum seperti angkot dan bus, bila dalam keadaan mendesak gunakan jasa taksi atau ojek motor. Ada beberapa nasehat dan tulisan diinternet yang dapat dijadikan refrensi untuk hal ini.

Hotel Semeru. Alasan menyewa kamar hotel ini lebih karena pertimbangan kedekatannya ke stasiun Kertapati sehingga akan memudahkan akses untuk melanjutkan perjalanan malam harinya ke Lubuklinggau. Petugas hotel tidak bersedia memberikan discount walaupun diinformasikan bahwa sore/malam harinya sudah akan keluar. Tidak direkomendasikan sebagai tempat untuk menginap.

Kereta api Palembang – Lubuklinggau. Karena rencananya petualangan akan dilanjutkan ke kota Bengkulu, maka setibanya di stasiun Kertapati Palembang yang dilakukan pertama kali adalah membeli tiket kereta malam sebelum jalan-jalan di kota Palembang. Tidak ada pelayanan kereta api dari Palembang menuju Bengkulu, hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh kondisi geografis kota Bengkulu yang berada didekat pegunungan dan laut. Pelayanan kereta api hanya sampai ke Lubuklinggau dan dilanjutkan dengan bus atau mobil travel ke Bengkulu.

Tiket kereta kelas bisnis dan eksekutip tidak dijual oleh pihak stasiun tetapi dijual oleh agen yang telah ditunjuk.Berbeda dengan agen tiket di stasiun Lampung yang berada di sekitar area stasiun, agen tiket kereta di Palembang berada jauh dari stasiun (keadaan ini update pada bulan Februari 2008, mungkin sekarang sudah berubah). Petugas stasiun memberikan informasi agen tiket diantaranya CV. Sahabat telp. (0711) 512999, CV. Grawindo telp.(0711) 317789 (dekat RS. Ceritas), Savari Mulia telp. (0711) 313191. Untuk mencapai agen tiket CV. Sahabat maka dari stasiun Kertapati naik angkot atau bus yang kearah jembatan Ampera. Mintakan ke si sopir agar diturunkan di depan tugu (monumen) keluarga berencana (KB) di jalan Ahmad Yani, kantor agennya persis diseberang tugu (monumen).

Pengeluaran
Tiket kereta api Bisnis Lampung – Palembang Rp 64.500, Hotel Semeru Rp 75 ribu, Biaya makan (sarapan,siang,malam) Rp 26 ribu, ongkos becak Rp 10 ribu, ongkos perahu menyebrang ke pulau Kemaro Rp 15 ribu (Pp), ongkos-ongkos angkot, bus, ojek dan beli minuman Rp 50 ribu. Total pengeluaran Half Sumatera Journey (2), Bandar Lampung – Palembang sebesar Rp 240.500,- (angka-angka yang tertera pada pengeluaran tersebut update pada saat perjalanan backpacker ini dilakukan. kemungkinan harga-harga tersebut telah berubah pada saat tulisan ini anda baca)

Catatan Backpacker ini berlanjut ke Half Sumatera Journey (3), Palembang – Lubuklinggau - Bengkulu

28 komentar:

obat said...

keren...terima kasih informasinya. Kebetulan tahun ini rencana untuk keliling Sumatera atau Kalimantan, jadi bisa jadi refrensi yang sangat bermanfaat.

Salam-Tyas

Ruben Sukatendel si Jejak Backpacker said...

Terima kasih atas kunjungannya Tyas, semoga catatan backpacker nya dapat membantu. sebenarnya masih banyak catatan lainnya yang perlu dipublikasikan, semoga dalam waktu dekat dapat dipublikasikan di blog jejak backpacker ini. salam backpacker....

obat said...

Saya tunggu postingan berikutnya mas, sangat ingin keliling antara bulan April-Mei 2010 :)

Ruben Sukatendel si Jejak Backpacker said...

Ok, mudah2an mas Tyas dapat terwujud pada tahun 2010 ini. salam backpacker...

bonek kesasar said...

Salam kenal.
Catatan perjalanannya sangat berguna.
Kalau boleh tahu, kereta api Lampung - Palembang aman nggak? Denger2 katanya jendelanya banyak yg bolong. Kereta api yg jalan malam sering berenti di kota2 kecil yang sunyi dan didatangi bajing loncat. Bener nggak?

Ruben Sukatendel si Jejak Backpacker said...

Halo Bonek Kesasar...memang cerita itu santer terdengar, tapi dibandingkan menggunakan bus dari Lampung ke Palembang sepertinya lebih aman naik kereta api mas.

Pertimbanganya diantaranya adalah bahwa biasanya ada aparat keamanan yang ditugaskan diatas kereta api. Pengalaman ketika menggunakan kereta api ini cukup aman. memang benar yang mas katakan, kereta ini sering berhenti distasiun2 kecil. tks

bonek kesasar said...

Terima kasih jawabannya mas Ruben.
Selain kereta malam, apakah ada yg jalan pagi/siang hari?
Apa betul jendela kereta banyak yg bolong alias nggak ada kaca jendela?

Ada informasi yang lengkap mengenai kereta api di Sumatra?
Saya bermaksud overland sumatra naik kereta api dengan cara ngecer. Maksudnya brenti2.

Salam
Evia (saya perempuan lho :)

Ruben Sukatendel si Jejak Backpacker said...

Dear Bonek Kesasar (Mbak Evia), mohon maaf sebelumnya bila saya menyapa anda dengan sebutan "mas" bukan "mbak".

Bila anda berniat menjelajahi pulau Sumatera dengan kereta api sepertinya hal tersebut tidak dapat anda lakukan sepenuhnya, hal tersebut karena kondisi geografis pulau Sumatera tidak sama dengan di pulau Jawa. Sumatera memiliki gunung-gunung dan hutan lebat yang tidak dimungkinkan u/ membangun jalur kereta api.

Jasa kereta api hanya ada dari kota bandar lampung menuju Palembang atau kota2 lainnya disekitar lampung dan palembang, juga dari Palembang ke Lubuklinggau atau kota2 disekitar Palembang. Mbak Bonek tidak akan dapat menjangkau kota padang dari Palembang atau sebaliknya.

Kereta api lainnya yang ada si sumatera seperti kereta api di sumatera barat yg hanya melayani rute kota Padang - Sawah lunto - Pariaman.

Sumatera utara juga memiliki kereta api yang rutenya hanya Medan - Tebingtinggi - Pematang Siantar - Rantau Parapat (semua rute ini berada dalam satu propinsi)

Mengenai jendela kaca kereta api yang pecah, sejauh yang sy lihat, memang ada yang retak, ya hampir sama dengan kereta api ekonomi di pulau Jawa lah.

Informasi lengkap tentang jadwal kereta api u/ pulau Sumatera belum sy dapatkan, tp nanti kalau miliki akan sy berikan.

Salam backpacker.....

obat said...

mbak Eiva kapan akan menjelajah Sumatera?

Tyas

bonek kesasar said...

Mas Ruben yang baik,
nggak usah minta maaf kok. Banyak yg sering terkecoh.

mengenai kondisi geografis Sumatra yg tidak dimungkinkan dibangunnya jalur kereta api, menurut saya hanya masalah waktu dan teknologi. Serta kemauan dari pemerintahnya. Bukan masalah mungkin atau tidaknya. Di Amerika, dimana kondisi geografisnya jauh lebih ekstrem dibanding Indonesia, jalur kereta apinya meliputi semua kawasan. Di kawasan pegunungan dimana ada salju abadi, malah ada semacam terowongan bershelter untuk melindungi jalur kereta dari jatuhan salju. Kan kalau saljunya jatuh lantas mengeras, bisa licin. AKibatnya sangat fatal, kereta bisa tergelincir turun atau malah jatuh ke jurang, wong daerahnya di pegunungan.

Indonesia kan nggak ada salju, kecuali di puncak Jayawijaya.

kereta dari lampung ke palembang ada yg jalan pagi atau siang?

@ Tyas: Insya Allah sekitar juni juli agustus. Pengennya overland Jawa Sumatra. Dari Jawa kalau ada temennya mau hitch hike truk.

Salam
Evia

Ruben Sukatendel si Jejak Backpacker said...

Dear Mbak Evia, saya sangat setuju dengan pendapat anda, tetapi kalau kita membandingkan teknologi di Amerika Serikat dengan di Indonesia mungkin seperti kata pepatah kita "jauh panggang dari api" namun demikian, "kalau ada kemauan pasti ada jalan"

Sebagai contoh kasus, pembangunan fasilitas MRT dan Monorail di Jakarta mbak. sejak dicanangkan dari beberapa tahun yang lalu, sampai sekarang nggak jelas kepastianya. Sampai sy sangat malu didalam hati atas promosi pariwisata Malaysia di Indonesia yang pernah membanggakan mereka punya "Monorail" hehee...padahal apalah arti monorail? tapi ya sudahlah, aku masih yakin bangsa ini memiliki potensi besar, asal saja orang2 yang memerintah memiliki "HATI" dan "NURANI"

Mbak Evia, ada kereta api dari Lampung menuju kota Palembang pada pagi hari sekitar jam 7 atau 8-an.

Sebenarnya masih ada beberapa tulisan tentang pulau Sumatera yang belum ditulis, khususnya tentang Sumatera utara. Mudah2an sebelum Mbak Evia melakukan perjananan ke Sumatera sudah dapat sy publikasikan. tks sudah berkunjung ke blog Jejak Backpacker, sy jg sudah mengunjungi blognya mbak, blognya bagus dan informatif. tks

salam backpacker...

bonek kesasar said...

Mas Ruben yang baik,
MRT mau dibangun di Jakarta? wah kemajuan. Salut dengernya. Ada wacana aja sudah kemajuan banget itu.

Wah, anda sampe Sumut segala ya? Saya tunggu tulisannya deh.

Dulu saya sering menjelajah Sumbar, Sumut dan Riau. Sudah lama sekali. Saya juga tulis di blog kisah perjalanan saya sewaktu di Sumbar.

Nanti itu ceritanya pengen napak tilas. Dulu kalau jalan naik bis. Kalau kereta api belum pernah. Makanya pengen banget kesana naik kereta api. Tahun 2008, saya juga sempat backpacking overland Jawa. Naik kereta api. Bukan kereta eksekutif, tapi kereta rakyat. Nuansanya sangat berbeda dan tentunya jauh lebih menarik dibanding kereta eksekutif.
Pengalaman saya di kereta api tsb juga saya tulis di blog.

Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

Salam backpacker juga
Evia

obat said...

Mbak Eiva,

Keren tuh, cuma saat sekarang ga ada waktu kalo mesti hitch and hike truck, kerja ikut orang jadi ga bisa lama-lama perginya.

Besok saya berangkat by kereta api ke Jakarta dan dengan pesawat ke Banda Aceh, darisana baru aku mulai petualangan.

Semoga bisa mendokumentasikan dengan bagus seperti mas Ruben.

Salam backpacker -Tyas

Ruben Sukatendel si Jejak Backpacker said...

Dear Mbak Evia, Salut dengan kerendahan hati anda, seandainya di Indonesia ini banyak Evia - Evia lainnya spt anda, saya yakin pariwisata Indonesia akan maju pesat. hal tersebut terjadi karena orang tidak akan mengeluh harus menunggu fasilitas yang tersedia harus serba wah baru berkunjung ke suatu tempat tertentu. sukses buat anda.

U/ Obat, Semoga perjalanannya menyenangkan.

salam backpacker u/ anda berdua. tks

bonek kesasar said...

Mas Ruben yang baik,
Waduh saya tidak bermaksud merendah. Hanya ingin berbagi bahwa dengan melakukan perjalanan seperti cara saya, banyak pelajaran kehidupan yang kita serap.

Contohnya, kereta rakyat itu ternyata harus mengalah bila akan berpapasan dengan kereta bisnis atau eksekutif. Toh penumpangnya nggak ada yang menggerutu. Enggak seperti kereta di Amerika dimana dalam satu rangkaian segala kelas ada. Dibedakan menurut gerbongnya aja. Gerbong tidur sendiri, gerbong duduk sendiri. Yang gerbong tidur dilengkapi dengan kamar mandi dan tentunya harganya lebih mahal. Justru kereta kargo yang harus mengalah kalau akan berpapasan dengan kereta penumpang.

Pelajaran lain, pedagang asongan enggak bisa masuk kalau kereta eksekutif brenti kan? Tapi bisa leluasa masuk menawarkan dagangan kalau berada di kereta rakyat. Kalau bisa diliat secara positif, sebagai penumpang kita dimanja. Makan tinggal milih, kehabisan pulsa tinggal beli. Enggak seperti di kereta eksekutif dimana ada resto nya. Harganya mahal pula.

Selain itu, mengamati dinamika kehidupan orang orang di kereta rakyat lebih beraneka dan sangat menarik dibanding kereta eksekutif yang terkesan dingin.

Itu menurut saya lho. Dan dengan catatan, kalau banyak waktu.

Salam backpacking
Evia

Ruben Sukatendel si Jejak Backpacker said...

Dear Mbak Evia, thanks atas sharing info-nya tentang kereta api di Amerika yang begitu nyaman dan manusiawi. Suatu saat nanti pengen juga backpackeran di Amerika, yah...semuanya pasti dimulai dari mimpi kan mbak.

oh ya, mengenai kereta api kelas ekonomi di Indonesia, memang benar-benar unik dan terkadang lucu. Saya sering naik kereta api ekonomi Jakarta - Bogor kalau lagi pengen berkunjung ke Kebun Raya Bogor. Kereta ini akan dipenuhi oleh para penumpang dan pedagang asongan.

terkadang, u/ mendapatkan posisi berdiri dengan nyaman saja diatas kereta sudah merupakan berkah hehehe... terkadang saking padat dan berdesak-desakkanya kerongkongan terasa kering dan pengen minum, nah tinggal beli saja kepada pedagang minuman yang mondar-mandir sambil menjajakan daganganya, sungguh membantu.

namun demikian, selain pedagang asongan, tukang copet menjadi hal yang perlu diwaspadai diatas kereta api ekonomi.

Salam Backpacker u/ mbak Evia, tks.

Andi Anwar said...

maaf mas mau nanya,kalau pesen tiket damri jakarta lampungnya dimana ya alamatnya..makasih sebelumnya...sabtu ini saya mau ke lampung soalnya,takut keabisan tiket damri.

Ruben Sukatendel si Jejak Backpacker said...

Dear Andi Anwar, Tiket bus Damri tujuan Lampung dapat dibeli di sekitar area Stasiun kereta api Gambir (dekat Monas).

Letak loketnya berada diluar stasiun gambir-nya mas, didekat bus damri yang tujuan Bandara. ok semoga dapat membantu dan salam backpacker.

gandung said...

mas ruben, salam kenal, saya gandung, 18 thn

wah keren bgt nih mas, jln2 ke sumateranya, saya berencana mengikuti jejak mas, tp mgkn hanya sampai palembang saja, terus menuju bangka

sangat membantu bgt lho mas infonya

btw, kalo memepersiapkan perjalanan (transpor, akomodasi, dll) butuh wkt brapa hari ya?

kemaren saya jg baru bertualang semarang-solo-jogja (biasa rute pelajar)

salam kenal

Ruben Sukatendel si Jejak Backpacker said...

u/ Mas Gandung, salam kenal juga buat anda.

mengenai pertanyaan anda, ttg berapa hari persiapan untuk transportasi,akomodasdi dan lainnya, mungkin berbeda antara satu traveler dengan yg lainnya.

kalau anda berangkat seorang diri atau dengan teman-teman laki-laki, menurut saya bisa aja sambil berangkat dan sedapatnya saja, kecuali anda membawa teman wanita atau orang tua. tks

salam backpacker

bonek kesasar said...

Hai Ruben,

Salam jumpa kembali.

Juni - Agustus saya mudik ke Indonesia. Di bulan Juli saya backpacking menyusuri Jawa dan Sumatra. Semuanya jalan darat. Hanya pulangnya saja terpaksa naik pesawat dari Medan menuju Jakarta. Sebetulnya saya malu sama ransel gembel dan celana kumel saya kalau naik pesawat :)
Backpacking gituloh. Tapi terpaksa, karena mengejar waktu. Jakarta - Surabaya baru jalan darat lagi, dan tentunya mampir mampir. Itu enaknya kalau jalan darat. Bisa berhenti mendadak dimana kita suka.

Mungkin saya lagi nggak beruntung mendapatkan angkutan kereta api. Bisa jadi karena bertepatan dengan musim liburan sehingga susah beli tiket KA. Beberapa kawan menyarankan untuk tidak menggunakan KA dalam perjalanan Lampung - Palembang karena rawan. Apalagi saya sendirian, perempuan pula. Jadi bingung, gimana sebetulnya kondisi KA disana? Apa betul banyak begal didalam gerbong KA?

Terima kasih
Evia

Ruben Sukatendel si Jejak Backpacker said...
This comment has been removed by the author.
Ruben Sukatendel si Jejak Backpacker said...

Dear Evia,

mungkin ada benarnya teman anda, kalau tiket yang anda beli kelas Ekonomi, tapi saya sarankan anda beli yg kelas Bisnis. Kelas bisnis lebih teratur dan tertib, tp jangan terkejut bila kualitas kelas Bisnis Sumatera kurang lebih sama dengan kelas Ekonomi di Pulau Jawa.

Pengalaman saya ketika menggunakan kereta api dari Lampung ke Palembang pada malam hari aman2 saja, dan personil polisi-nya (saya ngga tanya, apakah petugas tersebut sengaja ditugaskan mengawal atau kebetulan sebagai penumpang).

Tp saran saya, bila anda punya waktu lebih, tak ada salahnya melakukan perjalanan pada siang hari dibanding malam, apalagi anda seorang wanita.

oke selamat ber-backpacking ria, salam backpacker dan terima kasih berkunjung kembali ke blog jejak backpacker. tks

dean_F said...

makasih nhe...,,,, kebetulan pengen bgt ke palembang.......
bisa jadi pertimbangan gw kesana
rhanks

Ruben Sukatendel si Jejak Backpacker said...

Dear Dean, semoga perjalanan anda ke Palembang menyenangkan. salam Backpacker u/ anda ya, tks

iman rabinata said...

lagi hunting lokasi backpacker lanjutan neh....palembang salah satunya......makasih udah berbagi mas....

Ruben Sukatendel si Jejak Backpacker said...

Mas Iman, semoga perjalanannya nanti ke Palembang menyenangkan. salam Jejak backpacker

ahmad said...

numpang cari info tiket kereta palembang - lampung nih..

ada investasi properti yang bagus nih, kunjungi kami ya.