Tuesday, February 9, 2010

Hotel Jogja, Bukittinggi, Sumatera Barat

Hotel Jogja berlokasi di jalan Perintis Kemerdekaan kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Hotel ini berjarak sekitar 100 – 200 meter dari Jam Gadang dan terletak dibawah lokasi wisata tersebut.

Posisi hotel yang berada dalam kawasan pasar bawah dan bersebelahan dengan Bank BNI, serta banyak penjual makanan pada malam hari menjadikan Hotel Jogja dapat dipertimbangkan sebagai salah satu alternatip sebagai tempat menginap murah ketika berkunjung ke kota Bukittinggi.
Hotel Jogja menetapkan aturan baku bahwa pukul 12.00 Wib merupakan waktunya check-out, mereka mengabaikan jam check-in (jam berapapun anda check-in, jam check-out tetap jam 12.00 siang).
Pihak hotel bersedia menerima titipan tas tamu, bila misalkan, si tamu tidak memperpanjang menyewa kawar, tetapi masih ingin berjalan-jalan sampai sore hari di Bukittinggi.
Diruang recepsionist hotel ada tulisan yang kira-kira bunyinya “tamu yang berpasangan, harap tunjukkan surat nikah”. Saya nggak bertanya ke petugas hotelnya, tentang apakah tulisan tersebut memang benar-benar serius dan setiap tamu yang berpasangan harus membawa surat nikah?
Rate kamar dan cara mencapainya
Rate kamar pada Hotel Jogja di Bukittinggi untuk standar single sebesar Rp 80 ribu/malam dan ekonomi single sebesar Rp 60 ribu/malam
(update pada saat melakukan perjalanan di Bukittinggi pada tanggal 10 - 12 Februari 2008). Pada saat menginap di hotel Jogja Bukittinggi, saya mendapatkan kamar dilantai satu yang posisinya langsung menghadap ke halaman hotel, kamarnya lumayan bagus dan bersih.
Untuk mencapai hotel Jogja tidaklah terlalu sulit. Ketika akan memasuki kota Bukittinggi, anda disarankan turun di simpang Jambu Air (biasanya si sopir kendaraan akan bertanya “ada yang turun di Jambu Air?”). Dari simpang Jambu Air, naik angkot warna merah nomor 14 dan minta diturunkan didepan hotel Jogja didaerah Pasar Bawah.
Kalau anda tidak turun di simpang Jambu Air maka bus (mobil travel) akan berbelok ke kanan dan berhenti di terminal Bukittinggi. Sebenarnya dari terminal banyak juga angkot yang menuju daerah pasar atas dan pasar bawah, hanya saja jarak tempuhnya semakin jauh.

Read More..

Bus Harmoni(s), Bukittinggi – Danau Maninjau

Bila anda sedang berkunjung ke kota Bukittinggi di Sumatera Barat dan semua tempat wisata di kota ini mungkin sudah dikunjungi karena lokasinya yang berdekatan, maka tidak ada salahnya untuk berkunjung ke Danau Maninjau. Waktu tempuh dari Bukittinggi ke Danau Maninjau sekitar 1,5 – 2 jam menggunakan bus.

Sepanjang perjalanan menuju Danau Maninjau terhampar persawahan, perkampungan, dan pegunungan. Terkadang warna daun pada sebagian pepohonan dihutan-hutan sepanjang perjalanan b
erwarna kemerah-merahan. Menurut keterangan warga setempat, pepohonan tersebut merupakan tanaman kulit manis.

Bus Harmoni dan Harmonis
Untuk mencapai Danau Maninjau dapat menggunakan bus dari terminal Bukittinggi. Nama bus yang melayani rute Bukittinggi – Maninjau adalah bus Harmoni dan Harmonis (kedua bus ini memiliki nama yang hampir sama, perbedaanya hanya pada huruf ”s” saja).

Untuk menemukan bus Harmoni dan Harmonis, anda terlebih dahulu menuju terminal Bukittinggi. Untuk mencapai terminal dari kota Bukittinggi dapat menggunakan angkot atau kalau daerah pasar bawah naik angkot warna merah nomor 19 dan turun di terminal (akhir dari trayek angkotnya).

Setelah turun dari angkot, berjalan kaki sekitar 200-an meter masuk ke terminal. Temukan bus “Harmoni” atau “Harmonis” diantara bus lainnya disekitar area terminal. Ongkos bus dari Bukittinggi ke Danau Maninjau ataupun sebaliknya sekitar Rp 10 ribu (update pada saat melakukan perjalanan tanggal 11 Februari 2008).

Riview Danau Maninjau dan Kelok 44
Pada saat berkunjung ke danau Maninjau, kunjungan ini merupakan kunjungan pertama saya ke daerah ini. Pada saat bus Harmonis tiba di desa pertama didanau Maninjau, saya turun dari bus dan berjalan kaki kearah danau yang tertutup rumah-rumah warga. Sangat sulit menemukan bibir danau selain pantai yang dimiliki oleh hotel setempat.

Beberapa warga setempat merekomendasikan berkunjung ke tempat wisata “Muko-muko” yang berjarak sekitar 5 – 7 kilometer dari desa tersebut dan dapat ditempuh menggunakan angkot. Sebenarnya tempat wisata ”Muko-muko” dilewati oleh bus Harmoni(s) bila tadinya nggak turun didesa tersebut.

Tempat wisata “Muko-Muko” tidaklah terlalu ramai, mungkin karena kunjungan ke danau Maninjau bukan pada hari libur. Menurut informasi warga lokal, ada tempat wisata baru seperti “Muko-muko” disekitar danau Maninjau dengan pemandangan air terjun, tetapi karena hari sudah sore dan berencana kembali pulang Bukittinggi maka tempat wisata yang dimaksud tidak jadi dikunjungi.

Saat perjalanan semakin mendekati Danau Maninjau, anda akan melewati kelok 44, sebutan kelok dapat diartikan sebagai belokan. Kelok 44 berarti ada 44 belokan jalan dari dan ke danau Maninjau dari arah Bukittinggi. Pemberian nomor kelokan dimulai dari danau Maninjau.

Pada kelokan antara 4 – 15 terdapat banyak monyet-monyet yang berkeliaran di tepi jalan. Monyet-monyet ini sepertinya sudah terbiasa mendapat makanan dari penumpang kendaraan yang lewat. Umumnya makanan tersebut dilemparkan keluar dari kendaraan, dikarenakan jalan yang sempit sehingga berbahaya bila menghentikan kendaraan.

Pada saat kepulangan dari danau Maninjau menuju Bukittinggi, bus Harmonis-nya hampir tidak sanggup melewati kelokan 31 – 32, tetapi si kondektur (mungkin sudah biasa) langsung sigap mengganjal roda bus dengan kayu balok yang sudah disediakan. Penumpang yang ada didalam bus tidak ada yang panik dan menganggap kejadian ini sesuatu yang biasa – biasa saja, tetapi bagi saya, kejadian tersebut cukup luar biasa.

Melewati kelok 44 saat tiba pada desa pertama setelah kelokan, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 18.45 Wib dan merupakan waktu sholat Maghrib dikawasan Maninjau dan sekitarnya. Si sopir menghentikan bus ditepi jalan dan berteriak “Maghrib” “Maghrib” “Sholat Maghrib dulu”, sesaat saya terhentak karena hampir semua penumpang keluar dari bus dan pergi ke Mushola setempat.

Pada saat itu, saya memang tidak ikut menunaikan sholat Maghrib karena saya seorang Nasrani, tetapi seumur hidup baru kali ini saya mengalami kejadian seperti ini, yang menurut saya unik dan langka. Pada saat menunggu mereka menyelesaikan sholatnya, saya menelpon istri saya dan menceritakan kejadian yang baru saya alami.

Mereka menikmati hidupnya tanpa perlu diburu-buru waktu, bahkan mereka masih memiliki waktu yang dapat mereka berikan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bepergian ke suatu tempat yang baru dan dapat berbaur dengan orang setempat merupakan pengalaman yang menarik dan menyenangkan.

Read More..

Sunday, February 7, 2010

Bus Fa Habeco, Kota Bengkulu – Padang

Pengalaman naik bus Fa Habeco dari kota Bengkulu ke kota Padang dijalani ketika melakukan perjalanan Half Sumatera Journey by Jejak Backpacker tanggal 9 Februari 2008

Sambil berkunjung di tempat-tempat menarik di kota Bengkulu, saya juga berusaha mencari tiket bus yang akan berangkat pada malam harinya menuju kota Padang. Ketika mendatangi salah satu perusahaan bus yang menuju kota Padang diperoleh informasi bahwa bus dari Bengkulu umumnya berangkat sebelum jam 13.00 Wib siang dan tidak ada keberangkatan pada malam hari.

Karena tipe perjalanan Half Sumatera Journey by Jejak Backpacker ini direncanakan berangkat pada malam hari menuju kota berikutnya, namun karena keterbatasan sarana transportasi maka rencana tersebut terancam gagal. Saat berada diatas angkot ketika hendak pulang ke losmen, salah satu penumpang angkot memberikan informasi bahwa masih ada bus ekonomi berukuran sedang bernama Fa. Habeco tujuan kota Padang (bus Fa Habeco kira-kira seukuran Metromini/Kopaja di Jakarta atau seukuran bus Sinabung Jaya/Sutra/Borneo di Medan yang menuju tempat wisata kota Berastagi/Kabanjahe).

Informasi tersebut langsung ditindaklanjuti dengan mencarter angkot seharga Rp 15 ribu menuju penginapan Gumay di Bengkulu untuk mengambil ransel. Alasan mencarter angkot dikarenakan jadwal keberangkatan bus Fa Habeco pada pukul 16.00 Wib sementara jam sudah menunjukkan pukul 15.30an.

Akhirnya perjalanan dari kota Bengkulu dengan bus Fa. Habeco menuju kota Padang segera dimulai. Perkiraan waktu tempuh dari kota Bengkulu ke kota Padang menurut penumpang bus Fa Habeco sekitar 14 – 16 jam, tetapi kenyataan berkata lain, bus Fa. Habeco ternyata menghabiskan waktu sekitar 23 Jam (hampir satu hari satu malam) untuk mencapai kota Padang. Sungguh terlalu.....

Bus Fa Habeco menjalani rute Bengkulu - Ipuh - Mukomuko - Tapan - Indrapura - Air Haji - Painan - Padang. Pada saat melakukan perjalanan Half Sumatera Journey by Jejak Backpacker ini, ongkos bus Bengkulu – Padang sebesar Rp 90 ribu. Bus berangkat pukul 16.00 an sore melalui rute pesisir utara melewati pinggir laut pulau Sumatera yang menghadap ke Samudera Hindia.

Awal perjalanan dengan bus ini cukup menyenangkan dikarenakan melewati tepian laut pada sore hari dengan pemandangan sunset yang memanjakan mata. Dari percakapan dengan sesama penumpang diketahui bahwa dalam kondisi normal, perjalanan dengan bus ini akan tiba di kota Padang pagi hari sekitar pukul 06.00 – 08.00 Wib. Akan tetapi, hal-hal yang abnormal mulai muncul seperti dua jam setelah keberangkatan, ban bus yang kanan depan bocor. Ban tersebut diganti dengan ban cadangan yang secara kasat matapun dapat dilihat sudah kurang layak alias ban cadangannya sudah gundul.

Dua jam setelah ban pertama bocor, ban cadangan yang sebelumnya digunakan sebagai ban pengganti, mengalami kebocoran juga. Permasalahan besarnya adalah mereka tidak memiliki ban cadangan lain, hari sudah gelap, dan posisi kita semuanya berada dalam hutan kelapa sawit.

Khabar baiknya, untung ada rumah buruh kebun sawit didekat lokasi kebocoran ke dua, dan mau meminjamkan sepeda motornya untuk mencari tukang tambal ban ke desa terdekat atau sekitar 10an kilometer. Proses penambalan ban menelan waktu sekitar 3 - 4 jam.

Sambil menunggu perbaikan ban-nya bus, para penumpang duduk ditepi jalan raya diantara kerimbunan hutan sawit di daerah Bengkulu. Salah seorang penumpang yang terbiasa melewati jalur ini berkata; “untung ban bocor masih dipinggir kawasan hutan sawit, seandainya terjadi ditengah hutan sawit, menjelang tengah malam gini, ya…pasrah aja lah” (mungkin maksudnya ”banyak perampok ditengah hutan”) nyali saya rada ciut mendengar komentar penumpang tersebut.

Pernah mendengar dan membaca berita tentang kejadian-kejadian kriminal di tengah-tengah hutan Sumatera, membenarkan komentar si penumpang tersebut. Pelaku kriminalnya mungkin berpikiran bahwa para penumpang atau pengendara yang sedang melakukan perjalanan pastilah membawa barang-barang yang cukup berharga yang menjadi incaran mereka. Oleh karenanya, banyak pengguna jalan yang melintasi trans Sumatera menghentikan perjalanannya pada malam hari.

Syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, semuanya akhirnya aman dan terkendali. Menjelang subuh, bus ini berhenti sekitar 1.5 – 2 jam dan si supir tidur begitu saja, padahal supir mereka ada dua orang, tetapi kedua supir tersebut sepakat untuk tidur.

Pagi harinya, bus Fa Habeco melanjutkan perjalanannya kembali. Disepanjang perjalanan menuju kota Padang banyak penumpang yang naik dan turun diantara desa dijalur Bengkulu – Padang ini. Jadilah bus Fa Habeco seperti bus kota Kopaja/Metromini yang menaik dan nurunin penumpang disepanjang jalan.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.00 Wib pagi, tapi tanda-tanda mendekati kota Padang sepertinya masih jauh entah dimana. Pada pukul 10.00 Wib terlihat tanda plang batu dipinggir jalan yang memberi informasi bahwa jarak kota Padang dari tempat ini sekitar 200 kilometer lagi. Kepala langsung pusing mengetahu jarak yang masih harus ditempuh dan ditambah kondisi bus yang “ngos-ngosan” saat melewati tanjakan perbukitan ditepi laut. Puncaknya, sekitar 20an kilometer dari kota Padang atau tepatnya di sekitar pantai Bungus, ban bus Fa Habeco kembali bocor (bosan dah menceritakan ban bocor ini lagi).

Akhirnya perjalanan dari kota Bengkulu menuju kota Padang tiba sore hari pukul 15.00 Wib atau perjalanan dengan bus Fa Habeco menelan waktu sekitar 23 jam. Bila melakukan perjalanan di kota Bengkulu dan berencana melanjutkan perjalananan ke kota Padang, tidak disarankan menggunakan bus ini. Lebih bijaksana, bila memiliki waktu yang cukup, menginap satu malam di Bengkulu dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya dengan bus yang lebih nyaman.

Berhubung tujuan akhirnya adalah kota Bukittinggi maka setelah tiba di suatu tempat di kota Padang (nggak tahu nama lokasinya), langsung naik angkot menuju kantor mobil travel Tranex Mandiri menuju Bukittingi. Tiba di kota Bukittingi pada sore hari pukul 18.00 Wib dan langsung menuju penginapan di daerah Pasar bawah.

Read More..

Friday, February 5, 2010

Half Sumatera Journey (5), Bukittinggi – Padang - Jakarta

Setelah dua hari beristirahat dan menikmati wisata kota Bukittinggi, akhirnya perjalanan Half Sumatera Journey by Jejak Backpacker ini akan berakhir. Banyak hal-hal menarik dan kesan yang baik saat berada di kota Bukittinggi. Kesan baik terhadap kota Bukittinggi bukan hanya karena tempat wisatanya yang indah atau kulinernya yang enak-enak, tapi juga karena keramahan dan perhatian orang-orang di kota ini.

Selama berada di kota Bukittinggi, hampir tidak pernah tertipu (ditipu) oleh sopir angkot dalam hal jumlah tarif (ongkos) walaupun mereka tahu saya seorang pendatang (wisatawan backpacker). Memang, nilai ongkos angkot hanyalah recehan, tetapi kalau dalam hal recehan saja orang tidak dapat dipercaya, bagaimana dengan hal yang lebih besar. Semoga karakter baik yang sudah ada dapat dipertahankan seterusnya agar wisatawan yang datang ke Bukittinggi betah berlama-lama menikmati wisata Bukittinggi.
Data Perjalanan
Berangkat dengan mobil travel dari sekitar simpang Jambu Air di Bukittingi pada tanggal 12 Februari 2008, pagi hari pukul 08.00 Wib. Tiba di kota Padang dan turun di jalan Damar (depan Gramedia) pada pukul 09.45 Wib.
Kepulangan dari Padang menuju Jakarta menggunakan penerbangan murah Air Asia pada tanggal 12 Februari 2008, malam hari pukul 21.45 Wib.
Angkutan umum di kota Padang seperti Angkot, ojek motor, taksi dan Andong (disekitar Pasar Raya Barat Padang) dan tarif rata-rata angkot sekitar Rp 2 ribu.
Wisata kota Padang yang dikunjungiKota Padang. Kota Padang merupakan ibukota bagi Propinsi Sumatera Barat dan berperan sebagai pintu gerbang wisata di wilayah Barat Pulau Sumatera. Sebagai kota pantai, suhu udaranya cukup panas berkisar 28,50 C – 31,50 C di siang hari dan 24.00 C – 25.50 C pada malam hari. Untuk menghindari sengatan matahari ketika berjalan-jalan di kota Padang, gunakan penutup kepala seperti topi atau payung dan gunakan pakaian yang menyerap keringat.

Museum Adityawarman. Lokasi museum berada di Jalan Diponegoro Padang. Arsitektur bangunan Museum Adityawarman berbentuk bangunan khas rumah Gadang Minangkabau. Pada halaman Museum Adityawarman terdapat miniatur Pedati dan Bendi serta pesawat peninggalan Perang Dunia II. Museum Adityawarman memiliki berbagai koleksi bersejarah, pakaian pengantin Minangkabau, patung, dan berbagai kerajinan tangan. Waktu berkunjung ke Museum Adityawarman adalah setiap hari, kecuali hari Senin, mulai pukul 08.00 – l6.00 Wib.
Taman Budaya. Lokasi taman budaya berdekatan dengan Museum Adityawarman di kota Padang. Aktivitas yang banyak dilakukan di taman budaya ini seperti kelompok belajar (sanggar) tari-tarian Sumatera Barat.
Masjid Nurul Iman dikota Padang. Masjid ini merupakan salah satu masjid yang menjadi kebanggaan bagi warga kota Padang karena keindahan arsitektur dan perjalanan sejarahnya yang panjang.

Pasar Raya Barat Padang. Pasar ini berada dipusat kota Padang yang selalu ramai dengan hilir mudik pengunjung. Jangan lewatkan kesempatan berkunjung ke pasar ini untuk melihat-lihat aktivitas penduduk setempat. Disekitar pasar raya barat Padang selalu ramai dan macet oleh angkot yang menunggu penumpang, juga terdapat jasa penyewaan andong.
Pantai Air Manis dan Legenda Malin kundang. Pantai Air Manis dapat ditempuh sekitar 30an menit dari pusat kota Padang. Ditepi pantai Air Manis terdapat relief batu Malin Kundang dan kapalnya yang hancur porak-poranda diterjang ombak. Legenda Malin Kundang merupakan cerita rakyat Sumatera Barat tentang seorang anak yang malu mengakui ibunya setelah menjadi kaya (sukses).
Tips dan Riview Jejak Backpacker
Perjalanan Padang – Bukittinggi – Padang.
Bila sedang melakukan perjalanan dari kota Padang ke Bukittingi atau sebaliknya, disarankan melakukannya pada pagi hingga sore hari, jangan malam hari. Karena sepanjang jalan terdapat banyak sekali objek-objek menarik yang dapat dinikmati seperti hamparan sawah dengan pohon kelapa, rumah penduduk dan aktivitas mereka, sungai, lembah atau ngarai, hutan, air terjun, dan suasana jalannya yang berkelok-kelok. Bila melakukan perjalanan pada malam hari maka semua pemandangan tersebut tidak dapat dinikmati.
Reputasi sopir angkot di kota Padang. Dibandingkan dengan sopir angkot di Bukittinggi, reputasi mental sopir angkot di Padang cukup buruk (banyak yang tidak jujur). Ongkos angkot di kota Padang umumnya sekitar Rp 2 ribu, tetapi bila mereka memperkirakan anda adalah pendatang (wisatawan), maka ongkos yang dibebankan bisa saja lebih mahal seribu perak dari yang seharusnya.
Sangat mudah bagi mereka untuk mengenali seseorang pendatang, hal tersebut dikarenakan mayoritas penduduk di kota Padang menggunakan bahasa Padang (Minang) sebagai bahasa pengantar dan pergaulan. Bagi mereka yang memang orang Minangkabau dan dapat berbahasa Minang hal tersebut tentunya tidak akan menjadi masalah.
Sebenarnya permasalahanya bukan jumlah ”seribu peraknya”, tetapi rasa ketidaknyamanan yang ditimbulkan karena perbuatan tersebut. Terkesan seolah-olah para pendatang (wisatawan) tidak tahu apa-apa sehingga dapat ditipu dengan mudah. Tidak jauh berbeda seperti anggapan sekelompok orang tentang bule-bule yang melakukan perjalanan di Indonesia, karena dia bule maka mereka tidak tahu standar harga dan kondisi suatu daerah. Padahal dalam kenyataanya, bisa saja bulenya lebih memahami kondisi daerah tersebut dibandingkan warga setempat. Hal tersebut dapat terjadi karena sebelum bepergian kesuatu tempat, mereka sudah membekali diri dengan informasi dari teman, internet, buku, majalah, dan lainnya.
Saran saat menggunakan angkot di kota Padang dengan membayar ongkos pas, misalkan langsung dikasih uang pas Rp 2 ribu. Presentase sebagai gambaran saat menggunakan jasa angkot dikota Padang adalah dari 5 kali naik angkot terjadi kecurangan 1 – 2 kali. Pengalaman yang dialami saat melakukan perjalanan ini, memang belum tentu dialami oleh pendatang lainnya, tapi tidak ada salahnya ada gambaran bagi mereka yang akan melakukan perjalanan ala backpacker ke kota ini.
Transportasi ke Pantai Air Manis. Naik angkot nomor 433 dari pasar raya barat Padang. Pesankan ke sopir angkotnya supaya diturunkan di simpang Pantai air manis. Jarak dari simpang pantai menuju Pantai air manis sekitar 6 – 7 kilometer melewati perbukitan dengan tanjakan yang cukup menantang. Banyak jasa ojek motor di simpang Pantai Air manis yang bersedia mengantar pengunjung ke pantai air manis. Tarif ojek motor sekitar Rp 7 ribu sekali jalan dan mereka bersedia menunggui pengunjung saat berjalan-jalan di pantai agar dapat kembali pulang bersama ke simpang pantai air manis.
Pada saat kepulangan mintakan berhenti di atas bukit untuk berphoto dengan latar belakang pantai air manis. Pada saat berkunjung ke Pantai air manis, sebelum memasuki desa di dekat pantai, biasanya ada sekelompok pemuda (Baca : PS = Pemuda Setempat) yang meminta uang tiket sebesar Rp 2 ribu. Jangan lewatkan melihat relief patung legenda anak durhaka "Malin Kundang" di tepi Pantai Air Manis.
Wisma Bhakti. Ketika berangkat dari Bukittinggi ke kota Padang, belum ada gambaran untuk mengambil penginapan didaerah mananya kota Padang, namun yang terpikir hanya dapat menemukan penginapan murah agar dapat menyimpan ransel sebelum berangkat ke Jakarta pada malam harinya.
Ketika kendaraan yang ditumpangi berhenti di jalan Damar kota Padang, persis didepan toko buku Gramedia, beberapa orang penumpang turun dan sayapun mengikuti mereka turun. Pada halte bus mencoba bertanya kepada beberapa orang tentang penginapan atau losmen yang murah disekitar tempat ini. Ada yang memberi saran ke wisma agak dibelakang jalan Damar, dekat hotel Jakarta. Saya cari wisma tersebut yang rupanya bernama Wisma Bhakti. Halaman wismanya cukup luas dan bersih, dengan bangunan bertingkat yang terawat dengan baik. Rate kamar termurah yang ditawarkan sebesar Rp 100 ribu per hari.
Melihat kondisi kamar Wisma Bhakti yang bersih dan apik, sebenarnya rate tersebut cukup pantas, tetapi karena tujuan menyewa kamar hanya untuk menyimpan tas ransel sampai pukul 19.00 Wib maka rate ini menjadi mahal bagi peruntukkannya.
Akhirnya, saya utarakan alasan tersebut kepada petugas wismanya yang bernama Mas Alim, dan dia berbaik hati meminjamkan kamarnya didepan wisma yang diperuntukkan bagi petugas wisma. Katanya, “sudahlah mas pake aja, bebas dah, mau mandi, tidur, silahkan saja”. Didalam hati, saya bersyukur dan bergumam, ”dijaman seperti ini, masih ada juga orang yang baik hati. Tawaran Mas Alim langsung diterima dan saya menyerahkan kartu tanda penduduk beserta kartu nama. Staf lainnya di wisma Bhakti bernama uda Dedy, beliau banyak memberi petunjuk cara mencapai tempat wisata di kota Padang. Terimakasih untuk Uda Dedy dan khususnya Mas Alim atas kebaikannya. Wisma Bhakti berada di Jalan Blk. Olo I No. 16 atau berdekatan dengan Hotel Jakarta di kota Padang..
Bus Damri dan Tranex Mandiri ke Bandara Minangkabau. Ada pelayanan bus Damri dan Tranex Mandiri dari kota Padang ke Bandara Minangkabau. Bila penerbangannya tidak pada malam hari maka dapat menggunakan armada ini untuk menghemat biaya.
Rute bus Damri Bandara di kota Padang sebagai berikut : Bandara – Jalan Hamka – Jalan S Parman – Jalan Veteran – Jalan Diponegoro – Jalan Bundokanduang – Jalan Pasar Ambacang – Jalan Naga – Jalan Imam Bonjol – Alunalun kota di Jalan Imam Bonjol. Ongkos bus Damri Bandara Minangkabau – kota Padang sekitar Rp 15 ribu.
Pada saat kepulangan ke Jakarta, jam keberangkatan pesawat sekitar jam 21.45 malam. Hal ini terjadi karena penerbangan Air Asia QZ7527, Padang-Cengkareng, tanggal 12 Feb 2008 delay beberapa kali. Pada saat pembelian tiket, jam keberangkatan seharusnya pukul 17.45 Wib.
Awalnya maksud pembelian tiket keberangkatan pada sore hari agar dapat menggunakan jasa armada Damri atau Tranex Mandiri ke Bandara Minangkabau dan setelah tiba di Bandara Cengkareng masih dapat menggunakan armada Damri ke Pasar Minggu.
Tapi jadwal Air Asia berkata lain, jadwal yang seharusnya pukul 17.45 Wib, dikonfirmasi melalui sms diubah menjadi pukul 20.30 Wib, dan dikonfirmasi lagi berubah menjadi pukul 21.45 Wib. Sisi positipnya, pihak Air Asia menginformasikan tentang delay tersebut sehingga tidak perlu menunggu lama di Bandara Minangkabau.
Pukul 19.30 Wib dari jalan Damar Padang, bertanya kepada sopir taksi tentang ongkos taksi ke Bandara Minangkabau dan mereka memberi harga sekitar Rp 80 – 90 ribu, ditawar Rp 60 ribu, akhirnya sepakat. Taksi di Padang tidak menggunakan argo meter untuk perhitungan ongkos, tetapi transaksi dilakukan dengan mekanisme tawar-menawar.
Tiba di bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng Jakarta pada pukul 23.30 Wib, otomatis Damri Bandara sudah tidak ada (pada saat perjalanan ini lakukan tahun 2008, pada jam tersebut, damri bandara memang sudah tidak ada. Update tahun 2010, Damri Bandara Soekarno-Hatta beroperasi sampai dengan sekitar pukul 23.30 Wib). Akhirnya, pulang ke rumah di daerah Kalibata Jakarta Selatan menggunakan taksi dengan beberapa orang (sharing ongkos taksi dengan 3 penumpang lain), masing-masing membayar ongkos taksi sebesar Rp 50 ribu.
Pengeluaran
Mobil travel Bukittingi – Padang Rp. 15 ribu, Biaya makan (pagi, siang dan malam) Rp 36 ribu, Ojek motor ke Pantai air manis (Rp 7 ribu sekali jalan, pulang-pergi Rp 14 ribu, plus tips 6 ribu) Rp 20 ribu, oleh-oleh keripik Balado Rp 36 ribu, Uang terimakasih kepada petugas Wisma Bhakti Rp 30 ribu.
Biaya lainnya (ongkos angkot, minuman, tiket tempat wisata) Rp 40 ribu, ongkos taksi ke Bandara Minangkabau Rp. 60 ribu, Tiket promo Air Asia Padang – Jakarta Rp 206 ribu, Airport tax Bandara Minangkabau Padang Rp 25 ribu, ongkos taksi dari Bandara Soekarno-Hatta ke Kalibata (sharing ber-empat) Rp 50 ribu. Total pengeluaran Half Sumatera Journey (5), Bukittinggi – Padang - Jakarta sebesar Rp 518.000,-

Read More..

Thursday, February 4, 2010

Half Sumatera Journey (4), Bengkulu – Padang - Bukittinggi

Waktu kunjungan ke tempat-tempat menarik di kota Bengkulu termasuk kunjungan singkat bila dibandingkan dengan kunjungan sebelumnya ke kota lain, seperti kota Lampung dan Palembang. Sesuai dengan perencanaan perjalanan yang sudah dibuat maka pada malam hari saat kunjungan di kota Bengkulu, perjalanan akan dilanjutkan menuju Bukittinggi melalui kota Padang. Berhubung transportasi bus dari kota Bengkulu menuju kota Padang berakhir pada siang hari, akhirnya diputuskan menggunakan jasa bus Fa Habeco.

Data Perjalanan
Berangkat dengan bus Fa Habeco dari kota Bengkulu menuju kota Padang pada tanggal 9 Februari 2008, pukul 16.00an Wib dan tiba di kota Padang esok harinya pada pukul 15.00an Wib. Setelah tiba di suatu tempat di kota Padang (nggak tahu nama lokasinya), langsung naik angkot menuju kantor mobil travel Tranex Mandiri menuju Bukittinggi. Tiba di kota Bukittinggi pada sore hari pukul 18.00 Wib dan langsung menuju penginapan di daerah Pasar bawah.

Angkutan umum di kota Bukittinggi seperti Angkot dan Andong (disekitar Jam Gadang). Tarif angkot sekitar Rp 1500 – 2000 (umumnya rata-rata Rp 1500).

Wisata Bukittinggi yang dikunjungi
Kota B
ukittinggi. Kota ini merupakan kota wisata yang berhawa sejuk dan nyaman di propinsi Sumatera Barat. Kawasan wisata Bukittinggi cocok dijadikan sebagai tempat untuk beristirahat dan berjalan-jalan. Tempat menarik yang layak dikunjungi di kota Bukittinggi seperti Jam Gadang, Istana Bung Hatta, Ngarai Sianok dan Lubang Jepang, Benteng Fort De Kock dan Kebun Binatang, Pasar atas dan pasar Bawah. Tempat wisata yang ada di kota Bukittinggi terletak berdekatan dan dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki.

Jam Gadang. Menara jam Gadang merupakan landmark bagi kota Bukittinggi dan provinsi Sumatra Barat. Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh dengan peletakan batu pertama dilakukan oleh putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Jam Gadang merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota). Pada masa penjajahan Belanda, jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan, sedangkan pada masa pendudukan Jepang berbentuk klenteng. Pada masa kemerdekaan, bentuknya berubah menjadi ornamen rumah adat Minagkabau. Jam Gadang berdiameter 80 cm, dengan denah dasar 13 x 4 meter dan ketinggianya 26 meter. Total biaya pembangunan Jam Gadang diperkirakan sekitar 3.000 Gulden pada tahun 1926an. Terdapat keunikan dari angka-angka Romawi pada Jam Gadang, yang mana bila penulisan huruf Romawi biasanya pada angka enam adalah VI, angka tujuh adalah VII dan angka delapan adalah VIII, Jam Gadang ini menulis angka empat dengan simbol IIII (umumnya IV).

Ngarai Sianok. Ngarai Sianok merupakan pemandangan lembah curam yang berada di kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Ngarai Sianok memiliki kedalaman jurang sekitar 100 meter dengan lebar sekitar 200 meter yang membentang sepanjang 15 kilometer. Patahan pada ngarai membentuk dinding yang curam, bahkan tegak lurus dan membentuk lembah yang hijau, merupakan hasil dari gerakan turun kulit bumi (sinklinal). Dasar ngarai dialiri Sungai Sianok dengan airnya yang jernih. Pada masa kolonial Belanda, jurang pada Nagarai Sianok disebut juga sebagai kerbau sanget, hal tersebut dikarenakan banyaknya kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai. Pada kawasan wisata Ngarai Sianok ini berkeliaran kera – kera yang mengharapakan makanan dari pengunjung.

Goa Jepang. Goa Jepang berada dalam kawasan Ngarai Sianok yang merupakan peninggalan pada masa penjajahan Jepang. Letak goa Jepang berada beberapa puluh meter dibawah permukaan tanah dengan rongga yang berbentuk setengah lingkaran dan rata-rata tingginya sekitar dua meter. Untuk dapat turun ke dasar goa, pengunjung harus menuruni sekitar 128 anak tangga. Didalam goa Jepang terdapat berbagai ruang-ruang dengan berbagai fungsi yang dulunnya digunakan oleh tentara Jepang.

Jembatan Limpapeh. Jembatan ini berada di jalan Ahmad Yani, kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Jembatan Limpapeh menghubungkan Benteng Fort De Kock dan Kebun Binatang Kinantan yang berada dalam satu kawasan Taman Bundo Kanduang. Gerbang masuk ke Jembatan Limpapeh dihiasi arsitektur bergaya Minangkabau. Dari Jembatan Limpapeh pengunjung dapat melihat aktivitas disekitar kota Bukittinggi dan pemandangan pegunungan disekitar kota.

Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan. Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan atau lebih dikenal dengan sebutan Kebun Binatang Kinantan ini berada dalam kawasan Taman Bundo Kanduang. Tempat wisata Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan dibangun pada tahun 1900 oleh seorang berkebangsaan Belanda bernama Controleur Strom Van Govent. Pada tahun 1929 dijadikan kebun binatang oleh Dr. J. Hock dan merupakan kebun binatang tertua di Indonesia. Di tengah lokasi wisata ini terdapat Museum Kebudayaan berbentuk rumah adat Minangkabau, Museum Zoologi dan tempat bermain anak-anak.

Benteng Fort de Kock. Benteng Fort de Kock didirikan oleh Kapten Bouer pada tahun 1825 atau pada masa Baron Hendrik Markus De Kock menjadi komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Oleh karena latar belakang masa pendiriannya maka penamaan benteng terkenal dengan nama Benteng Fort De Kock. Benteng yang terletak di atas Bukit Jirek ini digunakan oleh Tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau terutama sejak meletusnya perang Paderi pada tahun 1821-1837. Disekitar benteng masih terdapat meriam-meriam kuno periode abad ke 19. Lokasi Benteng Fort de Kock berada dalam kawasan Taman Bundo Kanduang yang berdekatan dengan Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan. Kedua objek wisata Bukittinggi ini dihubungkan oleh Jembatan Limpapeh.

Pasar Atas dan Bawah. Kedua pasar ini merupakan pasar tradisional yang berada di kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Lokasi pasar atas dan bawah berada di tengah kota Bukittinggi dan berdekatan dengan tempat-tempat wisata di kota ini. Selain melihat-lihat aktivitas pada pasar khususnya pasar atas maka pengunjung wajib mencoba menikmati nasi Kapau yang dijual Uni Lis.

Danau Maninjau. Danau ini terletak sekitar 30an kilometer dari kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Danau Maninjau merupakan danau vulkanik yang cekungannya terbentuk karena letusan gunung yang bernama Sitinjau (menurut legenda setempat), hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau yang menyerupai seperti dinding. Untuk mengunjungi Danau Maninjau dari arah Bukittinggi, pengunjung akan melewati jalan berkelok-kelok yang dikenal dengan ”Kelok 44”.

Tips dan Review Jejak Backpacker
Bus Fa Habeco (Bengkulu – Padang).
Sambil berkunjung di tempat-tempat menarik di kota Bengkulu, saya juga berusaha mencari tiket bus yang akan berangkat pada malam harinya menuju kota Padang. Ketika mendatangi salah satu perusahaan bus yang menuju kota Padang diperoleh informasi bahwa bus dari Bengkulu umumnya berangkat sebelum jam 13.00 Wib siang dan tidak ada keberangkatan pada malam hari.

Karena tipe perjalanan Half Sumatera Journey by Jejak Backpacker ini direncanakan berangkat pada malam hari menuju kota berikutnya, namun karena keterbatasan sarana transportasi maka rencana tersebut terancam gagal. Saat berada diatas angkot ketika hendak pulang ke losmen, salah satu penumpang angkot memberikan informasi bahwa masih ada bus ekonomi berukuran sedang bernama Fa. Habeco tujuan kota Padang (bus Fa Habeco kira-kira seukuran Metromini/Kopaja di Jakarta atau seukuran bus Sinabung Jaya/Sutra/Borneo di Medan yang menuju tempat wisata kota Berastagi/Kabanjahe).

Akhirnya perjalanan dari kota Bengkulu dengan bus Fa. Habeco menuju kota Padang segera dimulai. Perkiraan waktu tempuh dari kota Bengkulu ke kota Padang menurut penumpang bus Fa Habeco sekitar 14 – 16 jam, tetapi kenyataan berkata lain, bus Fa. Habeco ternyata menghabiskan waktu sekitar 23 Jam (hampir satu hari satu malam) untuk mencapai kota Padang. Catatan perjalanan tentang bus Fa Habeco dapat dibaca pada Bus Fa Habeco, Kota Bengkulu – Kota Padang”.

Tranex Mandiri (Padang – Bukittinggi). Akhirnya perjalanan dari kota Bengkulu menuju kota Padang tiba menjelang sore hari pada pukul 15.00 Wib dan berencana langsung melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi. Mengikuti saran sesama penumpang bus Fa Habeco yang merekomendasikan menggunakan armada Tranex Mandiri menuju Bukittinggi karena alasan kenyamanan. Sebenarnya banyak armada yang menuju Bukittinggi seperti mobil-mobil pribadi jenis Toyota Kijang dan lainnya yang digunakan membawa penumpang dari kota Padang ke Bukittinggi atau sebaliknya. Biasanya mobil-mobil pribadi tersebut menunggu calon penumpang di sekitar Minang Plasa di jalan Hamka kota Padang. Untuk mendatangi kantor Tranex Mandiri, saya disarankan naik angkot biru menuju pasar raya barat Padang. Trus, nyambung sekali lagi dengan angkot warna orange dan minta diturunkan di Tranex Mandiri. Ongkos Padang – Bukittinggi pada umumnya sebesar Rp 15 ribu. Pengalaman menggunakan armada Tranex Mandiri memang nyaman dengan ruang gerak kaki yang cukup bebas didalam armadanya. Berangkat dari kota Padang sekitar pukul 16.00 Wib dan tiba di Bukittinggi sekitar pukul 18.00 Wib.

Penginapan atau Motel di Bukittinggi. Umumnya wisatawan yang datang ke Bukittinggi disarankan mencari penginapan atau hotel di sekitar Pasar atas atau Pasar bawah agar akses ke tempat-tempat wisata dapat dicapai dengan mudah dan murah. Banyak pilihan penginapan atau hotel yang tersedia di kota ini yang dapat anda disesuaikan dengan budget dan keinginan.

Bila berminat mencari penginapan atau hotel sekitar pasar atas atau pasar bawah, ketika akan memasuki kota Bukittinggi, anda disarankan turun di simpang Jambu Air (biasanya si sopir kendaraan akan bertanya “ada yang turun di Jambu Air?”). Dari simpang Jambu Air, naik angkot warna merah nomor 14. Kalau anda tidak turun di simpang Jambu Air maka bus (mobil travel) akan berbelok ke kanan dan berhenti di terminal Bukittinggi. Sebenarnya dari terminal juga banyak angkot yang menuju pasar atas dan pasar bawah, hanya saja jarak tempuhnya semakin jauh.

Hotel Jogya di Bukittinggi. Pada saat berkunjung ke kota Bukittinggi, Jejak Backpacker menginap di Hotel Jogya Bukittinggi selama 2 hari menggunakan kamar standar single. Pertimbangan mengambil kamar yang lumayan bagus untuk ukuran backpacker ini adalah agar dapat beristirahat dengan nyaman setelah melakukan perjalanan yang melelahkan dan kurang tidur. Letak Hotel Jogya disekitar pasar bawah Bukittinggi atau bersebelahan dengan bank BNI dan posisinya berdekatan dengan jam Gadang.

Hotel Jogya menetapkan aturan baku bahwa jam 12.00 siang merupakan waktunya check-out, mereka mengabaikan jam check-in (jam berapapun anda check-in, jam check-out tetap jam 12.00 siang). Pihak hotel bersedia menerima titipan tas tamu, bila misalkan, si tamu tidak memperpanjang menyewa kawar, tetapi masih ingin berjalan-jalan sampai sore hari di Bukittinggi. Diruang recepsionist hotel ada tulisan yang kira-kira bunyinya “tamu yang berpasangan, harap tunjukkan surat nikah”. Saya nggak bertanya ke petugas hotelnya, tentang apakah tulisan ini memang benar-benar serius dan setiap tamu yang berpasangan harus membawa surat nikah?

Rate kamar pada Hotel Jogya di Bukittinggi untuk kamar standar single sebesar Rp 80 ribu/malam dan kamar ekonomi single sebesar Rp 60 ribu/malam.

Jam Gadang ke Ngarai Sianok. Bila anda sedang berjalan-jalan di sekitar Jam Gadang dan ingin berkunjung ke Ngarai Sianok dan lubang Jepang maka tempat ini dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau naik angkot. Cari nama jalan yang namanya ”Jalan Panorama” yang berjarak sekitar 200 meter dari jam Gadang. Telusuri ”Jalan Panorama” sekitar 300 - 400 meter dari simpang jalan, maka anda akan menemukan objek wisata Ngarai Sianok dan Lobang Jepang disebelah kiri jalan raya.

Guide di Lobang Jepang Bukittinggi. Pada saat memasuki tempat wisata Ngarai Sianok dan Lobang Jepang yang berada pada kawasan yang sama. Disebelah pintu masuk setelah loket tiket, akan ada orang-orang yang berkata “lobang Jepang-nya sebelah kiri”.

Biasanya mereka ini adalah guide-guide yang mau menawarkan jasa kepada anda untuk mengantar ke Goa Jepang. Tolak dengan halus bila anda tidak berniat menggunakan jasa mereka. Sebenarnya tanpa bantuan merekapun, anda dapat menjelajahi Lobang Jepang sendirian, nggak ada yang perlu ditakutkan. Namun, bila anda membutuhkan jasa guide yang akan menemani dan menjelaskan tentang sejarah Goa Jepang maka tidak ada salahnya menggunakan jasa mereka, tetapi sebelum menggunakannya tanyakan terlebih dahulu tarif yang akan anda bayar.

Didalam lubang atau Goa Jepang ini sudah dipasangi lampu listrik yang memadai. Pada setiap kamar atau lorong-lorong dalam gua sudah dibuatkan namanya sesuai dengan fungsinya pada jaman gua ini digunakan tentara Jepang. Didinding Goa Jepang terpasang lampu-lampu darurat, mungkin mengantisipasi bila listrik reguler tiba-tiba padam. Terpasang juga kamera pemantau pada beberapa titik didalam goa Jepang, tetapi tidak dapat diketahui dengan pasti apakah kamera tersebut berfungsi dengan baik atau hanya sekedar pajangan saja.

Bus Harmoni/Harmonis (Bukittinggi – Danau Maninjau). Untuk berkunjung ke Danau Maninjau dapat menggunakan Bus Harmoni atau Harmonis dari terminal Bukittinggi. Ongkos bus pada saat melakukan perjalanan ini sekitar Rp 10 ribu sekali jalan. Catatan perjalanan tentang bus Harmoni/Harmonis dapat dibaca pada ”Bus Harmoni/Harmonis, Bukittinggi – Danau Maninjau”.

Uda Ko In. Pada saat berjalan-jalan disekitar menara pandang di Ngarai Sianok, sempat berkenalan dengan seseorang bernama uda Ko In. Si beliau ini tour guide ke Gunung Merapi dan biasa membawa orang-orang asing mendaki gunung tersebut. Tarif guide yang biasa dikenakannya untuk mendaki Gunung Merapi bagi turis asing sebesar $US 35 per orang, mungkin buat orang lokal ada discount. Tarif ini sudah merupakan ongkos-ongkos ke gunung Merapi, tidak ditanyakan apakah biaya tersebut sudah termasuk biaya makan.

Atas informasi uda Ko In, saya baru mengetahui bahwa dihutan-hutan sekitar Bukittinggi pun sering ditemukan bunga Raflesia yang terkenal itu, jadi tidak hanya di Bengkulu saja, katanya. Menurut uda Ko In, perkiraan Bunga Raflesia mekar disekitar hutan-hutan di Bukittinggi antara bulan Desember – Februari, sedangkan di daerah Bengkulu sekitar bulan Juli – Agustus.

Uda Ko In sepertinya sangat mencintai dan menguasai tempat wisata alam di daerah Bukittinggi dan sekitarnya, beliau ini sangat prihatin melihat tebing-tebing Ngarai Sianok yang gundul paska gempa bumi yang melanda Sumatera Barat dan Bengkulu beberapa waktu lalu. Beliau berharap agar pemerintah daerah lebih peduli dengan keadaan wisata yang indah ini. Melihat kecintaanya kepada wisata, sempat diceritakan kisah Bli Komang dan Bli Made dari Bali yang memanfaatkan internet melalui blog untuk mempromosikan diri dan bisnis mereka ke seluruh dunia dengan cara mudah dan murah. Si beliau ini sepertinya tertarik dengan fenomena pemanfaatan blog oleh Bli Komang dan Bli Made yang di Bali dan ingin mewujudkannya juga dikemudian hari. Bila sedang tidak membawa tamu, uda Ko In sering berada dikawasan Ngarai Sianok membantu saudaranya berjualan cendramata.

Pengeluaran
Bus Fa. HABECO (Bengkulu – Padang) Rp 90 ribu, Armada Tranex Mandiri (Padang – Bukittinggi) Rp 15 ribu, Biaya Hotel Jogya di Bukittinggi (2 hari dengan kamar standar single) Rp 160 ribu, bus Harmoni/Harmonis (Bukittinggi - Danau Maninjau-Bukittinggi) Rp 20 ribu, Makan (siang,malam) Rp 30 ribu, Biaya lainnya (ongkos angkot, minuman, dan tiket tempat wisata) Rp 50 ribu. Total pengeluaran Half Sumatera Journey (4), Bengkulu – Padang - Bukittinggi sebesar Rp. 365.000,-

Catatan Backpacker ini berlanjut ke Half Sumatera Journey (5), Bukittingi – Padang - Jakarta

Read More..