Tuesday, February 9, 2010

Bus Harmoni(s), Bukittinggi – Danau Maninjau

Bila anda sedang berkunjung ke kota Bukittinggi di Sumatera Barat dan semua tempat wisata di kota ini mungkin sudah dikunjungi karena lokasinya yang berdekatan, maka tidak ada salahnya untuk berkunjung ke Danau Maninjau. Waktu tempuh dari Bukittinggi ke Danau Maninjau sekitar 1,5 – 2 jam menggunakan bus.

Sepanjang perjalanan menuju Danau Maninjau terhampar persawahan, perkampungan, dan pegunungan. Terkadang warna daun pada sebagian pepohonan dihutan-hutan sepanjang perjalanan b
erwarna kemerah-merahan. Menurut keterangan warga setempat, pepohonan tersebut merupakan tanaman kulit manis.

Bus Harmoni dan Harmonis
Untuk mencapai Danau Maninjau dapat menggunakan bus dari terminal Bukittinggi. Nama bus yang melayani rute Bukittinggi – Maninjau adalah bus Harmoni dan Harmonis (kedua bus ini memiliki nama yang hampir sama, perbedaanya hanya pada huruf ”s” saja).

Untuk menemukan bus Harmoni dan Harmonis, anda terlebih dahulu menuju terminal Bukittinggi. Untuk mencapai terminal dari kota Bukittinggi dapat menggunakan angkot atau kalau daerah pasar bawah naik angkot warna merah nomor 19 dan turun di terminal (akhir dari trayek angkotnya).

Setelah turun dari angkot, berjalan kaki sekitar 200-an meter masuk ke terminal. Temukan bus “Harmoni” atau “Harmonis” diantara bus lainnya disekitar area terminal. Ongkos bus dari Bukittinggi ke Danau Maninjau ataupun sebaliknya sekitar Rp 10 ribu (update pada saat melakukan perjalanan tanggal 11 Februari 2008).

Riview Danau Maninjau dan Kelok 44
Pada saat berkunjung ke danau Maninjau, kunjungan ini merupakan kunjungan pertama saya ke daerah ini. Pada saat bus Harmonis tiba di desa pertama didanau Maninjau, saya turun dari bus dan berjalan kaki kearah danau yang tertutup rumah-rumah warga. Sangat sulit menemukan bibir danau selain pantai yang dimiliki oleh hotel setempat.

Beberapa warga setempat merekomendasikan berkunjung ke tempat wisata “Muko-muko” yang berjarak sekitar 5 – 7 kilometer dari desa tersebut dan dapat ditempuh menggunakan angkot. Sebenarnya tempat wisata ”Muko-muko” dilewati oleh bus Harmoni(s) bila tadinya nggak turun didesa tersebut.

Tempat wisata “Muko-Muko” tidaklah terlalu ramai, mungkin karena kunjungan ke danau Maninjau bukan pada hari libur. Menurut informasi warga lokal, ada tempat wisata baru seperti “Muko-muko” disekitar danau Maninjau dengan pemandangan air terjun, tetapi karena hari sudah sore dan berencana kembali pulang Bukittinggi maka tempat wisata yang dimaksud tidak jadi dikunjungi.

Saat perjalanan semakin mendekati Danau Maninjau, anda akan melewati kelok 44, sebutan kelok dapat diartikan sebagai belokan. Kelok 44 berarti ada 44 belokan jalan dari dan ke danau Maninjau dari arah Bukittinggi. Pemberian nomor kelokan dimulai dari danau Maninjau.

Pada kelokan antara 4 – 15 terdapat banyak monyet-monyet yang berkeliaran di tepi jalan. Monyet-monyet ini sepertinya sudah terbiasa mendapat makanan dari penumpang kendaraan yang lewat. Umumnya makanan tersebut dilemparkan keluar dari kendaraan, dikarenakan jalan yang sempit sehingga berbahaya bila menghentikan kendaraan.

Pada saat kepulangan dari danau Maninjau menuju Bukittinggi, bus Harmonis-nya hampir tidak sanggup melewati kelokan 31 – 32, tetapi si kondektur (mungkin sudah biasa) langsung sigap mengganjal roda bus dengan kayu balok yang sudah disediakan. Penumpang yang ada didalam bus tidak ada yang panik dan menganggap kejadian ini sesuatu yang biasa – biasa saja, tetapi bagi saya, kejadian tersebut cukup luar biasa.

Melewati kelok 44 saat tiba pada desa pertama setelah kelokan, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 18.45 Wib dan merupakan waktu sholat Maghrib dikawasan Maninjau dan sekitarnya. Si sopir menghentikan bus ditepi jalan dan berteriak “Maghrib” “Maghrib” “Sholat Maghrib dulu”, sesaat saya terhentak karena hampir semua penumpang keluar dari bus dan pergi ke Mushola setempat.

Pada saat itu, saya memang tidak ikut menunaikan sholat Maghrib karena saya seorang Nasrani, tetapi seumur hidup baru kali ini saya mengalami kejadian seperti ini, yang menurut saya unik dan langka. Pada saat menunggu mereka menyelesaikan sholatnya, saya menelpon istri saya dan menceritakan kejadian yang baru saya alami.

Mereka menikmati hidupnya tanpa perlu diburu-buru waktu, bahkan mereka masih memiliki waktu yang dapat mereka berikan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bepergian ke suatu tempat yang baru dan dapat berbaur dengan orang setempat merupakan pengalaman yang menarik dan menyenangkan.

4 komentar:

made said...

kisah yg menarik ^__^

Ruben Sukatendel si Jejak Backpacker said...

Terima kasih atas komentar dan kunjunganya ke blog jejak backpacker. salam backpacker u/ anda. tks

~ dewi ~ said...

terimakasih infonya Bang Ruben.

Untuk objek wisata apa lagi yg harus di kunjungi di sekitar maninjau? Untuk 1 day trip cukup tdk waktunya? Rencananya berangkat dr Bukit Tinggi Pagi, dan balik lg sorenya.

Salam,
Dewi Kaban

Ruben Sukatendel si Jejak Backpacker said...

Dear Dewi Kaban, wisata andalan di Danau Maninjau memang danau ini. wisata lainnya lebih sebagai pelengkap seperti kelok 44, persawahan dan perkampungan penduduk. kalau anda berangkat pagi dari Bukittinggi dan pulang sore hari sudah cukup puas kok...

demikian Dewi, bujur ras mejuah juah