Thursday, February 4, 2010

Half Sumatera Journey (4), Bengkulu – Padang - Bukittinggi

Waktu kunjungan ke tempat-tempat menarik di kota Bengkulu termasuk kunjungan singkat bila dibandingkan dengan kunjungan sebelumnya ke kota lain, seperti kota Lampung dan Palembang. Sesuai dengan perencanaan perjalanan yang sudah dibuat maka pada malam hari saat kunjungan di kota Bengkulu, perjalanan akan dilanjutkan menuju Bukittinggi melalui kota Padang. Berhubung transportasi bus dari kota Bengkulu menuju kota Padang berakhir pada siang hari, akhirnya diputuskan menggunakan jasa bus Fa Habeco.

Data Perjalanan
Berangkat dengan bus Fa Habeco dari kota Bengkulu menuju kota Padang pada tanggal 9 Februari 2008, pukul 16.00an Wib dan tiba di kota Padang esok harinya pada pukul 15.00an Wib. Setelah tiba di suatu tempat di kota Padang (nggak tahu nama lokasinya), langsung naik angkot menuju kantor mobil travel Tranex Mandiri menuju Bukittinggi. Tiba di kota Bukittinggi pada sore hari pukul 18.00 Wib dan langsung menuju penginapan di daerah Pasar bawah.

Angkutan umum di kota Bukittinggi seperti Angkot dan Andong (disekitar Jam Gadang). Tarif angkot sekitar Rp 1500 – 2000 (umumnya rata-rata Rp 1500).

Wisata Bukittinggi yang dikunjungi
Kota B
ukittinggi. Kota ini merupakan kota wisata yang berhawa sejuk dan nyaman di propinsi Sumatera Barat. Kawasan wisata Bukittinggi cocok dijadikan sebagai tempat untuk beristirahat dan berjalan-jalan. Tempat menarik yang layak dikunjungi di kota Bukittinggi seperti Jam Gadang, Istana Bung Hatta, Ngarai Sianok dan Lubang Jepang, Benteng Fort De Kock dan Kebun Binatang, Pasar atas dan pasar Bawah. Tempat wisata yang ada di kota Bukittinggi terletak berdekatan dan dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki.

Jam Gadang. Menara jam Gadang merupakan landmark bagi kota Bukittinggi dan provinsi Sumatra Barat. Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh dengan peletakan batu pertama dilakukan oleh putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Jam Gadang merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota). Pada masa penjajahan Belanda, jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan, sedangkan pada masa pendudukan Jepang berbentuk klenteng. Pada masa kemerdekaan, bentuknya berubah menjadi ornamen rumah adat Minagkabau. Jam Gadang berdiameter 80 cm, dengan denah dasar 13 x 4 meter dan ketinggianya 26 meter. Total biaya pembangunan Jam Gadang diperkirakan sekitar 3.000 Gulden pada tahun 1926an. Terdapat keunikan dari angka-angka Romawi pada Jam Gadang, yang mana bila penulisan huruf Romawi biasanya pada angka enam adalah VI, angka tujuh adalah VII dan angka delapan adalah VIII, Jam Gadang ini menulis angka empat dengan simbol IIII (umumnya IV).

Ngarai Sianok. Ngarai Sianok merupakan pemandangan lembah curam yang berada di kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Ngarai Sianok memiliki kedalaman jurang sekitar 100 meter dengan lebar sekitar 200 meter yang membentang sepanjang 15 kilometer. Patahan pada ngarai membentuk dinding yang curam, bahkan tegak lurus dan membentuk lembah yang hijau, merupakan hasil dari gerakan turun kulit bumi (sinklinal). Dasar ngarai dialiri Sungai Sianok dengan airnya yang jernih. Pada masa kolonial Belanda, jurang pada Nagarai Sianok disebut juga sebagai kerbau sanget, hal tersebut dikarenakan banyaknya kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai. Pada kawasan wisata Ngarai Sianok ini berkeliaran kera – kera yang mengharapakan makanan dari pengunjung.

Goa Jepang. Goa Jepang berada dalam kawasan Ngarai Sianok yang merupakan peninggalan pada masa penjajahan Jepang. Letak goa Jepang berada beberapa puluh meter dibawah permukaan tanah dengan rongga yang berbentuk setengah lingkaran dan rata-rata tingginya sekitar dua meter. Untuk dapat turun ke dasar goa, pengunjung harus menuruni sekitar 128 anak tangga. Didalam goa Jepang terdapat berbagai ruang-ruang dengan berbagai fungsi yang dulunnya digunakan oleh tentara Jepang.

Jembatan Limpapeh. Jembatan ini berada di jalan Ahmad Yani, kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Jembatan Limpapeh menghubungkan Benteng Fort De Kock dan Kebun Binatang Kinantan yang berada dalam satu kawasan Taman Bundo Kanduang. Gerbang masuk ke Jembatan Limpapeh dihiasi arsitektur bergaya Minangkabau. Dari Jembatan Limpapeh pengunjung dapat melihat aktivitas disekitar kota Bukittinggi dan pemandangan pegunungan disekitar kota.

Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan. Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan atau lebih dikenal dengan sebutan Kebun Binatang Kinantan ini berada dalam kawasan Taman Bundo Kanduang. Tempat wisata Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan dibangun pada tahun 1900 oleh seorang berkebangsaan Belanda bernama Controleur Strom Van Govent. Pada tahun 1929 dijadikan kebun binatang oleh Dr. J. Hock dan merupakan kebun binatang tertua di Indonesia. Di tengah lokasi wisata ini terdapat Museum Kebudayaan berbentuk rumah adat Minangkabau, Museum Zoologi dan tempat bermain anak-anak.

Benteng Fort de Kock. Benteng Fort de Kock didirikan oleh Kapten Bouer pada tahun 1825 atau pada masa Baron Hendrik Markus De Kock menjadi komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Oleh karena latar belakang masa pendiriannya maka penamaan benteng terkenal dengan nama Benteng Fort De Kock. Benteng yang terletak di atas Bukit Jirek ini digunakan oleh Tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau terutama sejak meletusnya perang Paderi pada tahun 1821-1837. Disekitar benteng masih terdapat meriam-meriam kuno periode abad ke 19. Lokasi Benteng Fort de Kock berada dalam kawasan Taman Bundo Kanduang yang berdekatan dengan Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan. Kedua objek wisata Bukittinggi ini dihubungkan oleh Jembatan Limpapeh.

Pasar Atas dan Bawah. Kedua pasar ini merupakan pasar tradisional yang berada di kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Lokasi pasar atas dan bawah berada di tengah kota Bukittinggi dan berdekatan dengan tempat-tempat wisata di kota ini. Selain melihat-lihat aktivitas pada pasar khususnya pasar atas maka pengunjung wajib mencoba menikmati nasi Kapau yang dijual Uni Lis.

Danau Maninjau. Danau ini terletak sekitar 30an kilometer dari kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Danau Maninjau merupakan danau vulkanik yang cekungannya terbentuk karena letusan gunung yang bernama Sitinjau (menurut legenda setempat), hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau yang menyerupai seperti dinding. Untuk mengunjungi Danau Maninjau dari arah Bukittinggi, pengunjung akan melewati jalan berkelok-kelok yang dikenal dengan ”Kelok 44”.

Tips dan Review Jejak Backpacker
Bus Fa Habeco (Bengkulu – Padang).
Sambil berkunjung di tempat-tempat menarik di kota Bengkulu, saya juga berusaha mencari tiket bus yang akan berangkat pada malam harinya menuju kota Padang. Ketika mendatangi salah satu perusahaan bus yang menuju kota Padang diperoleh informasi bahwa bus dari Bengkulu umumnya berangkat sebelum jam 13.00 Wib siang dan tidak ada keberangkatan pada malam hari.

Karena tipe perjalanan Half Sumatera Journey by Jejak Backpacker ini direncanakan berangkat pada malam hari menuju kota berikutnya, namun karena keterbatasan sarana transportasi maka rencana tersebut terancam gagal. Saat berada diatas angkot ketika hendak pulang ke losmen, salah satu penumpang angkot memberikan informasi bahwa masih ada bus ekonomi berukuran sedang bernama Fa. Habeco tujuan kota Padang (bus Fa Habeco kira-kira seukuran Metromini/Kopaja di Jakarta atau seukuran bus Sinabung Jaya/Sutra/Borneo di Medan yang menuju tempat wisata kota Berastagi/Kabanjahe).

Akhirnya perjalanan dari kota Bengkulu dengan bus Fa. Habeco menuju kota Padang segera dimulai. Perkiraan waktu tempuh dari kota Bengkulu ke kota Padang menurut penumpang bus Fa Habeco sekitar 14 – 16 jam, tetapi kenyataan berkata lain, bus Fa. Habeco ternyata menghabiskan waktu sekitar 23 Jam (hampir satu hari satu malam) untuk mencapai kota Padang. Catatan perjalanan tentang bus Fa Habeco dapat dibaca pada Bus Fa Habeco, Kota Bengkulu – Kota Padang”.

Tranex Mandiri (Padang – Bukittinggi). Akhirnya perjalanan dari kota Bengkulu menuju kota Padang tiba menjelang sore hari pada pukul 15.00 Wib dan berencana langsung melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi. Mengikuti saran sesama penumpang bus Fa Habeco yang merekomendasikan menggunakan armada Tranex Mandiri menuju Bukittinggi karena alasan kenyamanan. Sebenarnya banyak armada yang menuju Bukittinggi seperti mobil-mobil pribadi jenis Toyota Kijang dan lainnya yang digunakan membawa penumpang dari kota Padang ke Bukittinggi atau sebaliknya. Biasanya mobil-mobil pribadi tersebut menunggu calon penumpang di sekitar Minang Plasa di jalan Hamka kota Padang. Untuk mendatangi kantor Tranex Mandiri, saya disarankan naik angkot biru menuju pasar raya barat Padang. Trus, nyambung sekali lagi dengan angkot warna orange dan minta diturunkan di Tranex Mandiri. Ongkos Padang – Bukittinggi pada umumnya sebesar Rp 15 ribu. Pengalaman menggunakan armada Tranex Mandiri memang nyaman dengan ruang gerak kaki yang cukup bebas didalam armadanya. Berangkat dari kota Padang sekitar pukul 16.00 Wib dan tiba di Bukittinggi sekitar pukul 18.00 Wib.

Penginapan atau Motel di Bukittinggi. Umumnya wisatawan yang datang ke Bukittinggi disarankan mencari penginapan atau hotel di sekitar Pasar atas atau Pasar bawah agar akses ke tempat-tempat wisata dapat dicapai dengan mudah dan murah. Banyak pilihan penginapan atau hotel yang tersedia di kota ini yang dapat anda disesuaikan dengan budget dan keinginan.

Bila berminat mencari penginapan atau hotel sekitar pasar atas atau pasar bawah, ketika akan memasuki kota Bukittinggi, anda disarankan turun di simpang Jambu Air (biasanya si sopir kendaraan akan bertanya “ada yang turun di Jambu Air?”). Dari simpang Jambu Air, naik angkot warna merah nomor 14. Kalau anda tidak turun di simpang Jambu Air maka bus (mobil travel) akan berbelok ke kanan dan berhenti di terminal Bukittinggi. Sebenarnya dari terminal juga banyak angkot yang menuju pasar atas dan pasar bawah, hanya saja jarak tempuhnya semakin jauh.

Hotel Jogya di Bukittinggi. Pada saat berkunjung ke kota Bukittinggi, Jejak Backpacker menginap di Hotel Jogya Bukittinggi selama 2 hari menggunakan kamar standar single. Pertimbangan mengambil kamar yang lumayan bagus untuk ukuran backpacker ini adalah agar dapat beristirahat dengan nyaman setelah melakukan perjalanan yang melelahkan dan kurang tidur. Letak Hotel Jogya disekitar pasar bawah Bukittinggi atau bersebelahan dengan bank BNI dan posisinya berdekatan dengan jam Gadang.

Hotel Jogya menetapkan aturan baku bahwa jam 12.00 siang merupakan waktunya check-out, mereka mengabaikan jam check-in (jam berapapun anda check-in, jam check-out tetap jam 12.00 siang). Pihak hotel bersedia menerima titipan tas tamu, bila misalkan, si tamu tidak memperpanjang menyewa kawar, tetapi masih ingin berjalan-jalan sampai sore hari di Bukittinggi. Diruang recepsionist hotel ada tulisan yang kira-kira bunyinya “tamu yang berpasangan, harap tunjukkan surat nikah”. Saya nggak bertanya ke petugas hotelnya, tentang apakah tulisan ini memang benar-benar serius dan setiap tamu yang berpasangan harus membawa surat nikah?

Rate kamar pada Hotel Jogya di Bukittinggi untuk kamar standar single sebesar Rp 80 ribu/malam dan kamar ekonomi single sebesar Rp 60 ribu/malam.

Jam Gadang ke Ngarai Sianok. Bila anda sedang berjalan-jalan di sekitar Jam Gadang dan ingin berkunjung ke Ngarai Sianok dan lubang Jepang maka tempat ini dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau naik angkot. Cari nama jalan yang namanya ”Jalan Panorama” yang berjarak sekitar 200 meter dari jam Gadang. Telusuri ”Jalan Panorama” sekitar 300 - 400 meter dari simpang jalan, maka anda akan menemukan objek wisata Ngarai Sianok dan Lobang Jepang disebelah kiri jalan raya.

Guide di Lobang Jepang Bukittinggi. Pada saat memasuki tempat wisata Ngarai Sianok dan Lobang Jepang yang berada pada kawasan yang sama. Disebelah pintu masuk setelah loket tiket, akan ada orang-orang yang berkata “lobang Jepang-nya sebelah kiri”.

Biasanya mereka ini adalah guide-guide yang mau menawarkan jasa kepada anda untuk mengantar ke Goa Jepang. Tolak dengan halus bila anda tidak berniat menggunakan jasa mereka. Sebenarnya tanpa bantuan merekapun, anda dapat menjelajahi Lobang Jepang sendirian, nggak ada yang perlu ditakutkan. Namun, bila anda membutuhkan jasa guide yang akan menemani dan menjelaskan tentang sejarah Goa Jepang maka tidak ada salahnya menggunakan jasa mereka, tetapi sebelum menggunakannya tanyakan terlebih dahulu tarif yang akan anda bayar.

Didalam lubang atau Goa Jepang ini sudah dipasangi lampu listrik yang memadai. Pada setiap kamar atau lorong-lorong dalam gua sudah dibuatkan namanya sesuai dengan fungsinya pada jaman gua ini digunakan tentara Jepang. Didinding Goa Jepang terpasang lampu-lampu darurat, mungkin mengantisipasi bila listrik reguler tiba-tiba padam. Terpasang juga kamera pemantau pada beberapa titik didalam goa Jepang, tetapi tidak dapat diketahui dengan pasti apakah kamera tersebut berfungsi dengan baik atau hanya sekedar pajangan saja.

Bus Harmoni/Harmonis (Bukittinggi – Danau Maninjau). Untuk berkunjung ke Danau Maninjau dapat menggunakan Bus Harmoni atau Harmonis dari terminal Bukittinggi. Ongkos bus pada saat melakukan perjalanan ini sekitar Rp 10 ribu sekali jalan. Catatan perjalanan tentang bus Harmoni/Harmonis dapat dibaca pada ”Bus Harmoni/Harmonis, Bukittinggi – Danau Maninjau”.

Uda Ko In. Pada saat berjalan-jalan disekitar menara pandang di Ngarai Sianok, sempat berkenalan dengan seseorang bernama uda Ko In. Si beliau ini tour guide ke Gunung Merapi dan biasa membawa orang-orang asing mendaki gunung tersebut. Tarif guide yang biasa dikenakannya untuk mendaki Gunung Merapi bagi turis asing sebesar $US 35 per orang, mungkin buat orang lokal ada discount. Tarif ini sudah merupakan ongkos-ongkos ke gunung Merapi, tidak ditanyakan apakah biaya tersebut sudah termasuk biaya makan.

Atas informasi uda Ko In, saya baru mengetahui bahwa dihutan-hutan sekitar Bukittinggi pun sering ditemukan bunga Raflesia yang terkenal itu, jadi tidak hanya di Bengkulu saja, katanya. Menurut uda Ko In, perkiraan Bunga Raflesia mekar disekitar hutan-hutan di Bukittinggi antara bulan Desember – Februari, sedangkan di daerah Bengkulu sekitar bulan Juli – Agustus.

Uda Ko In sepertinya sangat mencintai dan menguasai tempat wisata alam di daerah Bukittinggi dan sekitarnya, beliau ini sangat prihatin melihat tebing-tebing Ngarai Sianok yang gundul paska gempa bumi yang melanda Sumatera Barat dan Bengkulu beberapa waktu lalu. Beliau berharap agar pemerintah daerah lebih peduli dengan keadaan wisata yang indah ini. Melihat kecintaanya kepada wisata, sempat diceritakan kisah Bli Komang dan Bli Made dari Bali yang memanfaatkan internet melalui blog untuk mempromosikan diri dan bisnis mereka ke seluruh dunia dengan cara mudah dan murah. Si beliau ini sepertinya tertarik dengan fenomena pemanfaatan blog oleh Bli Komang dan Bli Made yang di Bali dan ingin mewujudkannya juga dikemudian hari. Bila sedang tidak membawa tamu, uda Ko In sering berada dikawasan Ngarai Sianok membantu saudaranya berjualan cendramata.

Pengeluaran
Bus Fa. HABECO (Bengkulu – Padang) Rp 90 ribu, Armada Tranex Mandiri (Padang – Bukittinggi) Rp 15 ribu, Biaya Hotel Jogya di Bukittinggi (2 hari dengan kamar standar single) Rp 160 ribu, bus Harmoni/Harmonis (Bukittinggi - Danau Maninjau-Bukittinggi) Rp 20 ribu, Makan (siang,malam) Rp 30 ribu, Biaya lainnya (ongkos angkot, minuman, dan tiket tempat wisata) Rp 50 ribu. Total pengeluaran Half Sumatera Journey (4), Bengkulu – Padang - Bukittinggi sebesar Rp. 365.000,-

Catatan Backpacker ini berlanjut ke Half Sumatera Journey (5), Bukittingi – Padang - Jakarta

2 komentar:

Anonymous said...

hi, saya liat2 blog anda ttg sumatera journey ini. mau minta info, ada no telp travel tranex mandiri yg di padang kah? kalo dari padang ke bukit tinggi dengan travel itu yang berangkat pagi kira2 jam berapa ya? pool nya dimana?
kalo wisma bhakti yg di padang itu dekat ga dengan pool tranex mandiri?
thanks
sela

Ruben Sukatendel si Jejak Backpacker said...

Dear Sela,

sy mohon maaf karena pada saat menggunakan jasa angkutan Tranex Mandiri dr Padang ke Bukittinggi sy tidak memiliki no telpon mereka. pada saat melakukan perjalanan tersebut sy hanya mengandalkan informasi dr warga ketika diatas angkot.

tetapi bila anda mau berkunjung ke Bukittingi via Padang dengan pesawat udara, maka jangan kuatir, karena selain angkutan Damri ada juga tranex mandiri yang melayani rute dr bandara ke kota Padang. saran sy, anda dapat menggunakan jasa tranex mandiri sampai ke pool nya di Padang, selanjutnya menggunakan angkutan mereka yang ke Bukittinggi.

Setahu saya, jarak antara pool tranex mandiri ke wisma bhakti tidak terlalu dekat. tp jangan kuatir, banyak kok penginapan atau hotel di kota padang. semoga membantu, salam backpacker.....